Sabtu, 03 Maret 2012

MENGAMPUNI (Bahan Ddiskusi & Renungan)

BAHAN       : Matius 18 : 21-35
Matius 18 : 21-35 berbicara mengenai perumpamaan tentang pengampunan. Perikop ini diawali dengan pertanyaan Petrus kepada Yesus mengenai seberapa sering diaharus mengampuni saudaranya jika saudaranya itu berbuat dosa terhadapnya. Mungkin pada saat itu Petrus merasa dirinya sudah sangat berbaik hati bila dia mengampuni saudaranya sampai 7 kali. Namun Yesus memiliki pandangan yang berbeda. DIA mengatakan bahwa mengampuni harus 77 x 7 kali. Dan mungkin Petrus kaget dengan jawaban itu dan kemudian dia sadar bahwa pengampunan 7 kali yang menurut dia besar ternyata masih sangat begitu kecil dibandingkan dengan standar Tuhan. Standar Tuhan bukan hanya tinggi, namun tanpa batas.
Yesus menjelaskan hal pengampunan menggunakan perumpamaan seorang raja yang telah mengampuni hambanya yang berhutang begitu banyak. Namun apakah hamba tersebut berterima kasih?? Mungkin saja mulutnya mengucapkan terima kasih namun peristiwa berikutnya justru menunjukkan bahwa dia bukanlah orang yang bersyukur/berterimakasih. Dia menolak berbelas kasihan kepada temannya yang berhutang kepadanya, bahkan mencekik dan memasukkan ke dalam penjara !!
Perselisihan seringkali terjadi dalam kehidupan sehari-hari, kapan saja dan dimana saja. Dengan pasangan, dengan anak, saudara, sahabat, sesama jemaat, orang tua, siapapun ! Betapa sering kita marah dan jengkel kepada orang-orang di sekitar kita, dan hal ini terjadi setiap hari !! meskipun demikian hal mengampuni masih merupakan hal yang paling sulit untuk dilakukan oleh hampir semua orang, terutama jika orang yang menyakiti adalah orang terdekat atau orang yang disayangi. Tidak mudah untuk mengampuni kemudian memberi kesempatan yang kedua bagi orang yang sudah menyakiti bahkan menghianati kita. Bahkan rasa sakit hati ini dapat berlangsung hingga bertahun-tahun tanpa ada solusi. Kalaupun ada yang bisa mengampuni, kejadian tersebut akan sangat membekas dalam hati.
Perselisihan bukanlah hal yang aneh dalam kehidupan manusia. Setiap manusia memiliki pandangan, pendapat, sikap, nilai dan budaya yang berbeda-beda. Semuanya berpotensi besar menimbulkan perselisihan antar manusia. Alkitab mencatat bahwa perselisihan pun terjadi dalam kehidupan pelayanan Euodia dan Sintikhe (Filipi 4 : 2), bahkan Paulus sendiri pun pernah berselisih tajam dengan Barnabas (Kis 15 : 39). Dalam kehidupan pelayanan gereja sekarang pun banyak terjadi hal semacam itu. Ada yang berselisih secara diam-diam, ada yang secara terbuka, bahkan membentuk kelompok-kelompok yang saling bermusuhan. Betapa sulitnya memperbaiki hubungan yang telah retak, membutuhkan waktu yang cukup lama untuk memulihkan hubungan 2 atau lebih pihak yang berselisih. Hal-hal semacam ini seringkali membuat kesaksian gereja menjadi rusak, bahkan hampir merontokkan iman orang yang baru percaya.
Sebenarnya apa saja yang menjadi penyebab perselisihan ?
Derek & Nancy Copley (“Membangun dengan Pisang”) mencatat ada 4 penyebab :
1.    Komunikasi yang tidak baik
Perselisihan yang terjadi antara 2 pihak sangat mungkin terjadi karena kesalahpahaman yang bersumber dari komunikasi yang salah. Mengkritik seseorang yang melakukan kesalahan jika dilakukan dengan langsung dan dengan sikap yang marah, dengan nada tinggi akan membuat situasi semakin sulit. Orang tersebut, meskipun mungkin kemudian dia sadar dengan kesalahannya bisa saja merasa tersinggung karena dikritik secara keras, dengan marah, apalagi bila dilakukan di depan banyak orang.
2.    Organisasi/pengaturan yang kurang baik
Ada gereja yang mengutamakan keteraturan, ada juga yang tidak. Ada orang yang suka disiplin, namun ada juga orang yang serba santai. Ketika mereka harus bekerja sama dalam sebuah pelayanan, kemungkinan besar mereka akan sering berselisih.
3.    Membuat sesuatu yang tidak penting menjadi seolah-olah penting
Hal-hal kecil yang sebenarnya tidak penting seringkali menjadi bahan yang sering diperdebatkan, dan bisa saja berujung perselisihan, bahkan permusuhan antara 2 atau lebih kelompok, misalnya pengaturan kursi, warna bunga, pakaian anak-anak muda, bertepuk tangan pada saat memuji Tuhan, dll.
4.    Rasa tidak aman
Ketika seseorang merasa tersinggung pada saat dikritik, orang tersebut merasa tidak aman, harga dirinya akan mencoba membela diri dan mungkin membalas, dan setelah itu si pengkritik akan kembali menyerang, dan perselisihan pun menjadi panjang. Perlu dipikirkan bahwa mungkin seseorang bukan bermaksud menyerang, melainkan hanya menyampaikan pemikirannya saja. Bila kita dapat menerima hal ini maka rasa harga diri tidak akan merasa terancam, dan kita dapat menyikapinya secara dewasa. Bahkan ketika orang tersebut menggunakan nada tinggi pada saat menyampaikannya.
BAHAN DISKUSI
Bagaimana caranya menghindari perselisihan :
1.    Apa yang harus dilakukan bila kita telah menyakiti hati orang lain ??
2.    Bagaimana sikap kita terhadap orang yang telah menyakiti hati kita ??
3.    Saya bersedia untuk berdamai dengan orang yang berselisih dengan saya, tetapi dia tidak bersedia berdamai, bagaimana seharusnya sikap saya ??
Jawaban :
1.    Mendekati orang yang sudah kita sakiti untuk meminta maaf. Seperti yang diajarkan oleh Yesus dalam Mat 5 : 23-24, “Sebab itu jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu”.
Ada kalanya kita sebenarnya tidak menyakiti hati orang lain, tetapi kita merasa seolah-olah kita telah melakukannya. Mungkin perkataan kita terdengar terlalu kasar, tidak salah bila kita terlebih dulu mengucapkan maaf atas perkataan kita yang kasar.
Hal ini memang sangat membutuhkan kerendahan hati namun merupakan suatu pengalaman yang sangat berharga karena memberikan manfaat yang besar dalam hubungan antar sesama, dan juga memberikan damai sejahtera sebelum kita menyembah dan melayani Tuhan, seperti yang tertulis dalam Mat 5 : 23-24.
2.    Mungkin ini adalah hal yang lebih sering terjadi bila dibandingkan dengan no 1. Secara umum orang merasa lebih sering disakiti daripada menyakiti. Bahkan seringkali orang menggunakan alasan dia menyakiti orang lain karena dia lebih dulu disakiti, semacam balas dendam. Atau karena kita merasa bahwa kita benar dan orang lain salah maka kita merasa seolah “air susu dibalas air tuba”. Tetapi apakah memang benar seperti itu?? Sebaiknya kita mencoba hal-hal berikut :
a.    Sebelum kita mengambil kesimpulan bahwa kita adalah korban, dan orang lain yang menyakiti kita, sebaiknya kita lebih dulu melihat kehidupan pribadi kita secara jujur. Apakah benar kita tidak pernah melakukan hal yang menyakiti orang lain?? Seringkali orang yang terus-menerus tersinggung, kemungkinan besar dia juga seringkali menyinggung perasaan orang lain.
b.    Mengampuni, dalam ayat yang kita baca Mat 18 : 21-35 sangat jelas dikatakan bahwa mengampuni adalah hal yang diharuskan, bahkan ketika seseorang bersalah dan terus menerus menyakiti hati kita, mengampuni berkali-kali sampai tanpa batas. Sangat melelahkan, tetapi itu jugalah yang dilakukan Tuhan. Mengapa harus mengampuni ?? jawabannya adalah karena Tuhan lebih dulu melakukannya bagi kita. Pengorbanan Yesus di kayu salib adalah wujud karya pengampunan terbesar bagi manusia. Yesaya 53 : 4-6
“Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah.Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.”
Ketika hati dan pikiran kita setiap saat dipenuhi dengan penghargaan terhadap apa yang telah Tuhan lakukan bagi kita maka dengan sendirinya kita akan mengampuni hal-hal kecil yang diperbuat orang lain terhadap kita.
c.    Mendekatinya dan berbicara dengan tenang
Seperti yang ditulis dalam Mat 18 : 15, “Apabila saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia dibawah empat mata”. Membicarakan dengan tenang hal yang menyinggung hati kita terkadang menjadi hal yang sangat sulit dilakukan, oleh sebab itu hal ini sebaiknya dilakukan setelah kita melakukan pengampunan, dan dilakukan dengan tenang dan di bawah empat mata.
Paulus memberikan contoh bagaimana berbicara dengan tenang ketika dia menegur atau mengkritik. Pertama dia akan menyampaikan penghargaan yang setulus-tulusnya kepada orang tersebut, baru kemudian dia menyampaikan keluhan atau tegurannya. Misalnya dalam Kol 1 : 3-4, Filipi 1:5.
Pembicaraan 4 mata, artinya dilakukan hanya antara kita dengan orang tersebut. Sering kali yang kita lakukan justru tidak membicarakan keluhan/rasa sakit hati kita dengan orang tersebut, melainkan membicarakannya dengan orang lain di belakangnya. Pada akhirnya perselisihan ini diketahui orang dan tercemarlah nama baik orang tersebut, dan bila terus-menerus menyebar, perselisihan ini akan menjadi bahan gosip yang justru mempersulit keadaan. Matius 18 : 15-20 jelas memperlihatkan bahwa akan ada banyak saudara yang terlibat, bila dengan sedikit orang perselisihan tidak terselesaikan. Sebaiknya pembicaraan 4 mata dilakukan dengan tenang, tanpa nada tinggi, dan kita mengawalinya dengan baik, tanpa emosi.
3.    Tetap berdamai, tetap mengampuni, tetap bersikap  baik, karena :
a.       Bahkan apabila setiap orang tidak mau setia terhadap prinsip mengampuni seperti pada perikop Mat 18 : 21-35, tetap menjadi tanggung jawab kita untuk melakukan apa yang benar sesuai dengan Alkitab. Kita tidak dapat bertanggung jawab terhadap perilaku orang lain, tetapi kita bertanggung jawab terhadap perilaku kita sendiri.
b.      Hubungan yang harmonis akan tetap ada bila ada seorang yang bersikap dewasa dan bertindak tepat
c.       Mungkin saja orang yang kurang dewasa pun akan bertindak dewasa dan kemudian berdamai
Kesimpulan :
Baca 1 Korintus 6 : 7-8
Setiap kita pasti pernah merasa disakiti, dan tanpa kita sadari kita mungkin juga pernah membuat orang tersinggung atau merasa tersakiti. Dalam 1 Korintus 6 : 7-8 Paulus tegas mengatakan supaya kita berhenti melakukan ketidakadilan dan merugikan orang lain. Dan kepada orang yang merasa dirugikan, Paulus meminta supaya sedikit mengalah dan jangan cepat menjadi marah karena hal-hal sepele.
Kerukunan bukan berarti setiap orang selalu berpikir sama persis dengan orang lain. Kesatuan dapat dipertahankan bila setiap orang yang bersedia mengampuni, mendengar pendapat dan pemikiran orang lain tanpa merasa terancam.  
(***rd***)

Tidak ada komentar: