PENGANTAR TEOLOGI SISTEMATIK



PROLEGOMENA



A. Pengertian/Definisi
B. Tempat Teologia
C. Pentingnya Teologia Sistematika
D. Sumber Teologia
E. Metode Teologia
F. Pembagian Teologia



A.   PENGERTIAN/DEFINISI

  1. Arti etimologis (asal kata) Istilah "Teologia" berasal dari 2 kata Yunani, yaitu: theos artinya "Allah"; dan logos artinya "perkataan, uraian, pikiran, ilmu". Sedangkan "Sistematika" berasal dari kata sustematikos, artinya penempatan/ penyusunan secara tepat.
  2. Definisi Istilah "Teologia" dapat dimengerti dalam arti sempit atau arti luas. Arti luas: mencakup seluruh pokok studi (disiplin ilmu) dalam pendidikan teologia. Arti sempit: usaha meneliti iman Kristen dari aspek doktrinnya saja yang sering disebut sebagai Teologia Sistematika.
Definisi umum: Teologia ialah pengetahuan yang rasional tentang Allah dan hubungannya dengan karya/ciptaan-Nya seperti yang dipaparkan oleh Alkitab. Definisi khusus: Teologia Sistematika ialah bagian dari divisi Teologia yang mengatur secara terperinci dan berurutan tema-tema dari ajaran doktrin dalam Alkitab.
  1. Pengertian Teologia sebagai Ilmu Teologia meskipun tidak memiliki fakta-fakta yang dapat diukur secara empiris (seperti ilmu-ilmu modern sekarang ini) tetap dapat disebut sebagai ilmu karena, sesuai dengan salah satu definisi "ilmu", teologia adalah suatu usaha untuk memberikan penjelasan tentang Allah, yang diperoleh dari Alkitab (sebagai penyataan Allah yang tidak berubah), dengan cara yang sistematis.
Dengan demikian Teologia Kristen memenuhi unsur-unsur ilmu:
    1. Dapat dimengerti oleh pikiran manusia dengan cara teratur dan rasional.
    2. Menuntut adanya penjelasan secara metodologis
    3. Menyajikan kebenaran
    4. Mempunyai nilai yang universal
    5. Memiliki objek yang diteliti


B.   TEMPAT TEOLOGIA

Pertanyaan yang sering timbul adalah, kalau Teologia adalah pengenalan tentang Allah dan karya-Nya, bagaimana hubungan Teologia dengan ilmu-ilmu yang lain (musik, filsafat, sosiologi, kedokteran, dll? Dengan percaya bahwa seluruh kebenaran adalah berasal dari Allah, maka tidak seharusnya Teologia bertentangan dengan disiplin-disiplin ilmu yang lain, baik itu kebenaran alam, filsafat, musik, dll., bahkan seharusnya mereka akan saling melengkapi.


C.   PENTINGNYA MEMPELAJARI TEOLOGIA SECARA SISTEMATIS

1.         Manusia sebagai mahluk ciptaan yang berasio. Manusia mempunyai kecenderungan untuk berpikir dan mempelajari sesuatu secara sistematis.
2.         Sifat Alkitab sendiri yang menuntut untuk disusun secara sistematis. Kebenaran tersebar secara acak di seluruh bagian Alkitab, sehingga perlu disusun secara sistematis.
3.         Bahaya pengajaran sesat. Untuk memberikan jawaban akan iman kepercayaannya dan sekaligus melawan setiap tantangan dari pengajaran palsu. 1Pe 3:15, Efe 4:14
4.         Alkitab adalah sumber doktrin Kristen. Tugas orang Kristen adalah untuk menjelaskan doktrin-doktrin itu dalam sistematika yang baik dan di dalam konteks yang tepat sehingga dapat menjawab pertanyaan, "Apa yang diajarkan oleh Alkitab kepada kita untuk jaman ini?"
5.         Alkitab adalah pedoman hidup Kristen. Mengerti Teologia bukan hanya sekedar sebagai pengetahuan teoritis, tapi juga sebagai gaya hidup yang berintegritas. 2Ti 2:24-25; 2Ti 3:15-16
6.         Keutuhan keseluruhan kebenaran Firman Tuhan yang bersistem sangat dibutuhkan oleh pekerja Kristen yang efektif.


D.   SUMBER TEOLOGIA

  1. Alkitab Sebagai sumber yang paling utama yang menjadi otoritas tertinggi dan mutlak bagi iman dan kehidupan Kristen.
  2. Tradisi gereja Khususnya dari Bapak-bapak Gereja, dan perkembangan pengajaran di gereja dari jaman ke jaman, yaitu tentang apa yang diterima/ditolak oleh gereja sepanjang sejarah.
  3. Buku-buku Lain Sumber-sumber lain berasal dari buku-buku yang sudah "jadi" yang dihasilkan oleh teologia biblika, historika atau filosofika untuk dipergunakan sebagai sarana membantu menyelidiki Alkitab dengan lebih sehat.
Catatan: sumber ke 2 dan ke 3 adalah sumber lain-lain yang bisa dipakai untuk membantu, namun demikian kebenaran dari sumber-sumber tsb. harus ada di bawah penghakiman/terang Alkitab.


E.   METODE TEOLOGIA

  1. Syarat-syarat
    1. Presupposisi (praduga awal) Setiap orang mengawali pemikiran dengan anggapan (asumsi)
    2. Mempunyai perlengkapan rohani dan sikap yang taat. Seorang yang mempelajari Alkitab tidak mungkin bersikap objektif, karena ia harus percaya terlebih dahulu bahwa Alkitab adalah Firman Allah yang tidak mungkin salah (iman mendahului rasio). "Karena percaya, orang mengerti" (Augustinus). Rasio adalah alat yang dipakai untuk mengerti pengetahuan.
    3. Membutuhkan penerangan Roh (iluminasi)
      1. harus percaya
      2. harus berpikir
      3. harus mempunyai ketergantungan
      4. sikap ibadah (penyembahan)

  1. Keterbatasan teologia
    1. Keterbatasan pemikiran manusia untuk memikirkan pikiran Allah yang tidak terbatas.
    2. Kekurangan ilmu pengetahuan pembantu.
    3. Keterbatasan bahasa manusia.
    4. Kekurangan ketrampilan untuk menguasai dan mengartikan secara tepat Alkitab secara utuh dan menyeluruh. (hermeneutik).
    5. Bungkamnya penyataan lanjutan.
    6. Pengaruh dosa dan kehendak daging.

  1. Metode-metode Teologia
    1. Metode Charles Hodge Memakai metode induktif, yaitu dengan mengumpulkan fakta-fakta, kemudian ditarik kesimpulan. Alkitab adalah gudang fakta (yang tidak dapat dicerna disingkirkan, karena, tidak diterima oleh rasio). Dasar teori a priori (sebelum pengalaman) diterima dan a posteriori (sesudah pengalaman) ditolak.
    2. Metode Karl Barth Teori Barth mengatakan: bahwa manusia tidak mungkin mengenal Allah (karena di luar jangkauan rasio manusia). Oleh karena itu Allah yang mencari manusia. Imanlah yang membantu manusia untuk bisa bertemu Allah (yang mencari mereka). Karena Allah ada di luar jangkauan manusia maka Allah menjadi "tersembunyi". Satu-satunya cara manusia untuk menerima kebenaran adalah melalui cara supranatural dan Allah harus menemui manusia langsung sehingga manusia mempunyai bukti pengalaman tentang Dia. Maka pernyataan teologis harus didasarkan pada pengalaman supranatural itu.
    3. Metode Torrance Ilmu adalah suatu keterbukaan terhadap obyek. Ilmu terjadi, karena manusia menaklukkan diri pada obyek penelitiannya yang intrinsik, yang untuk nantinya manusia mampu memberikan penjelasan rasionalitasnya terhadap obyek itu. Teologi juga demikian meskipun teologi mempunyai jenis rasionalitas sendiri, tidak perlu sama dengan rasionalitas disiplin ilmu yang lain.
Teologi yang obyektif adalah sejauh mana teologi tunduk dan terbuka pada obyek penelitiannya. Torrance menyangkal bahwa Obyeknya adalah Allah, karena Allah harus menjadi subyek, maka kalau begitu obyek lah (Allah) yang akan mempertanyakan tentang manusia.
    1. Metode Paul Tillich Metode yang dipakai adalah Metode Korelasi. Keprihatinannya yang utama adalah bagaimana menyampaikan berita Alkitab kepada situasi dunia kontemporer sekarang ini. Untuk menjawab ini maka pertanyaan-pertanyaan manusia modern itu dihubungkan sedemikian rupa dengan jawaban dari tradisi kristen, sedangkan jawaban-jawabannya ditentukan oleh bahasa filsafat, sains, psikokologi dan seni modern. Ia yakin tentu ada kaitan antara pikiran dan problema manusia dengan jawaban yang diberikan oleh kepercayaan dalam agama. Untuk itu ia menolak jawaban yang supranaturalisme dari fundamentalisme, dan juga menolak naturalisme dari liberalisme.
Penekanan metode Tillich adalah pada penggunaan bahasa simbolik religius. Ia yakin bahwa pengetahuan tentang Allah hanya dapat diuraikan melalui penggunaan kata-kata simbolik secara semantik. Tugas kita adalah menterjemahkan simbol religius dalam Alkitab ke dalam suatu urutan atau susunan simbol yang teratur melalui prinsip-prinsip dan metode-metode teologis.
    1. Metode Interpretasi Analitis Teologi adalah ilmu tentang Allah; yang memberikan paparan yang koheren (menyatu, berkaitan, teratur, logis) tentang doktrin-doktrin iman Kristen. Landasan utama yang dipakai dalam metode ini adalah percaya bahwa seluruh Alkitab adalah sebagai Firman Allah, kemudian sebagai respons mau tidak mau kita harus menginterpretasikan (menafsirkan) berita Alkitab ini lalu menterjemahkannya ke dalam bahasa kontemporer yang akan relevan dengan manusia di setiap jaman, budaya dan konteks.
Dengan demikian unsur terpenting dalam metode ini adalah penafsiran (karena segala sesuatunya harus ditafsirkan). Penafsiran yang tepat akan menghasilkan produk teologi yang tepat. Untuk itu seorang penafsir harus melakukan hal-hal berikut ini:
      1. Penafsir harus setia pada kebenaran Alkitab sebagai sumber normatif dan tidak mungkin keliru bagi semua manusia (Biblikal).
      2. Penafsir harus memakai sistem penafsiran yang sehat (ilmu Hermeneutiks) yaitu: melihat dari sudut pandang dan maksud orisinil penulis (dilihat dari latar belakang historis, budaya, ekonomi dan gramatikal/bahasanya), lalu hasil penafsirannya itu (dari Kejadian - Wahyu) diteliti, dianalisa dan dipadukan. Kemudian ditarik kesimpulan dan prinsip-prinsip, apa yang sebenarnya Alkitab ingin ajarkan secara keseluruhan bagi kehidupan normatif sepanjang jaman.
      3. Untuk tugas di atas penafsir juga harus melihat dirinya sendiri (latar belakang, dll.) sehingga ia betul-betul terbuka kepada Alkitab dan tidak berbias, mengurangi, atau memanipulasinya. Selain itu, sifat penafsiran ini juga harus sesuai dengan sifat kekinian sehingga dapat diaplikasikan untuk menjawab kebutuhan manusia kontemporer.
      4. Keseluruhan hasil penafsiran ini perlu disusun sedemikian rupa untuk memenuhi standard ilmu (analistis, dengan metode yang tepat dan teratur, sistematik dan diungkapkan dengan bahasa yang jelas). Teologia yang dihasilkan dari penyusunan ini dijamin sifat biblikal, sistematik, kontekstual dan praktikalnya.
Dasar pemahaman adalah dari 2Ti 3:16-17; kita tidak mendayagunakan teologi untuk memperbaiki ketidak-jelasan yang ada dalam Alkitab tapi untuk menerangi ketidak-jelasan pikiran manusia dalam menanggapi isi Alkitab.


F.    PEMBAGIAN TEOLOGIA

  1. Dalam arti luas Teologia, sebagai keseluruhan pokok studi pendidikan Teologia, dibagi menjadi:
    1. Teologia Biblika (Eksegetis) Teologia yang berurusan dengan penelahaan isi naskah Alkitab dan alat- alat bantunya, untuk tujuan menggali, mengerti dan mengartikan apa yang ditulis dalam Alkitab.
    2. Teologia Historika (Sejarah) Teologia yang berurusan dengan sejarah umat Allah, Alkitab dan gereja, untuk tujuan mengikuti dan menyelidiki perkembangan iman/teologia dan sejarahnya dari jaman ke jaman.
    3. Teologia Sistematika (Doktrin Iman Kristen) Teologia yang berurusan dengan penataan doktrin-doktrin dalam Alkitab menurut suatu tatanan logis, untuk tujuan menemukan, merumuskan, memegang dan mempertahankan dasar pengajaran iman Kristen dan tindakan yang sesuai dengan Alkitab.
    4. Teologia Praktika (Pelayanan) Teologia yang berurusan dengan penerapan teologi dalam kehidupan praktis, untuk tujuan pembangunan, pengudusan, pembinaan pendidikan dan pelayanan jemaat dan umat manusia pada umumnya.

  1. Dalam arti sempit
Teologia, sebagai usaha meneliti iman Kristen dari aspek doktrinnya, dibagi menjadi beberapa bidang studi:
    • Bibliologi (Alkitab)
    • Teologia Proper (Allah)
    • Antropologi (Manusia)
    • Soteriologi (Keselamatan)
    • Kristologi (Yesus Kristus)
    • Pneumatologi (Roh Kudus)
    • Eklesiologi (Gereja)
    • Eskatologi (Akhir zaman)
Tuga Baca:
a. Henry Thiessen, Teologi Sistematik, hal. 1-9
b. Charles Ryrie, Teologi Dasar, hal. 9-18 
c.  V. Schenemann, Dogmatika Kristen, hal. 1-2.


BIBLIOLOGI

A. Pengertian/Definisi
B. Pernyataan Allah
C. Inspirasi (Pengilhaman)
D. Kanon Alkitab
E. Bahasa dan Transmisi Alkitab
F. Sifat-sifat Alkitab
G. Iluminasi


A.   PENGERTIAN/DEFINISI

  1. Arti etimologis (asal kata) Istilah "Bibliologi" berasal dari 2 kata Yunani, yaitu: biblion atau biblia (jamak) artinya "buku-(buku)"; dan logos artinya "perkataan, uraian, pikiran, ilmu" "Buku-(buku)" (atau "tulisan-tulisan") yang dimaksud adalah Alkitab (Firman Allah).
  2. Definisi Bibliologi adalah ilmu yang mempelajari tentang seluk beluk sekitar penulisan (Buku) Alkitab, dan peran Alkitab dalam iman kepercayaan Kristen. Alkitab sendiri didefinisikan sebagai kumpulan Kitab-kitab yang diakui sebagai "kanonik", dan diterima seluruhnya sebagai Firman Allah oleh gereja Kristen.
  3. Tempat Bibliologi dalam Teologi Sistematika Dengan pra-anggapan: a. bahwa manusia tidak mungkin tahu apapun tentang Allah kecuali Allah sendiri yang menyatakan diri kepada manusia, b. dan bahwa Allah telah berkenan menyatakan Diri-Nya melalui Alkitab untuk dikenal oleh manusia, maka, kita percaya bahwa Alkitab mempunyai peranan yang menentukan sebagai pemegang otoritas tertinggi dan menjadi sumber utama untuk mempelajari Teologi Sistematika; yaitu termasuk di dalamnya semua doktrin iman kepercayaan Kristen.
Oleh karena itu mempelajari doktrin Alkitab merupakan suatu pengantar atau permulaan yang baik untuk mempelajari doktrin-doktrin yang lain.
Tugas baca:
·         Henry Thiessen, Teologi Sistematika, hal.63-64
·         Ensiklopedia Alkitab Masa Kini, jilid 1, hal.28

B.   PENYATAAN ALLAH

  1. Pengertian/Definisi
    1. Arti etimologis: Dalam bahasa Yunani "Penyataan" adalah apokalupsis (dari apokalypto) yang artinya "sesuatu yang disingkapkan (dibukakan) dari apa yang dahulu samar-samar/tertutup/tidak terlihat jelas" (Luk 10:21; Efe 3:5).
Dalam bahasa Ibrani ada padanan arti dari pengertian di atas, yaitu gala, artinya "telanjang" (Kel 20:26, Yes 53:1; 2Sa 7:27).
    1. Definisi: Ada beberapa definisi yang dicetuskan oleh para teolog Kristen, namun secara umum dapat disimpulkan:
Suatu tindakan Allah (baik itu perbuatan maupun kata-kata) yang adalah inisiatif Allah sendiri untuk membuka Diri agar manusia yang adalah ciptaan itu dapat mengenal Allah Penciptanya (1Ko 2:11; Ula 29:29).
    1. Penyataan atau Wahyu Dalam bahasa Indonesia istilah "Penyataan" sering diartikan sama dengan kata "Wahyu." Kedua kata ini sebenarnya mempunyai konotasi yang berbeda. Dalam agama-agama lain kata "Wahyu" diartikan sebagai pengetahuan yang di dapat seseorang pada dirinya sendiri dengan keyakinan penuh bahwa pengetahuan itu datang dari Allah, baik dengan perantaraan atau tidak (mis.: mimpi, penglihatan, bisikan hati, dll.). Jadi berbeda sekali dengan pengertian yang diberikan dalam agama Kristen.
Oleh karena itu untuk menghindari kesalahan, istilah yang akan kita pakai selanjutnya dalam buku ini adalah "penyataan" dan bukan wahyu.

  1. Pentingnya Penyataan Allah adalah Pencipta alam semesta dan isinya. Melalui "Penyataan" Allah menunjukkan inisiatifNya untuk berkomunikasi dengan ciptaanNya, dalam hal ini manusia adalah satu-satunya ciptaan yang diberikan kemampuan untuk menerima dan mengembalikan respons terhadap tindakan Allah (penyataan) itu.
Tanpa "Penyataan" (penyingkapan diri Allah) ini maka manusia tidak mungkin akan tahu tentang diri Allah dan segala sesuatu yang Allah lakukan bagi ciptaanNya dengan benar. Allah adalah tidak terjangkau karena Ia tidak terbatas, sedangkan manusia adalah ciptaan dan terbatas. Ref. Yoh 1:18; 1Ti 6:16; Ayu 11:7; 23:3-9.
Pengetahuan yang datang dari diri manusia sendiri tentang Allah hanyalah merupakan spekulasi dan rekayasa pikiran manusia saja. Oleh karena itu "Penyataan" Allah ini menjadi satu-satunya sumber untuk manusia mengetahui tentang Allah dengan benar. Apalagi dengan keadaan manusia setelah jatuh ke dalam dosa, daya tangkap (kemampuan) manusia semakin tumpul dan tidak memungkinkannya dapat mengerti haI-hal rohani (mati rohani). Oleh karena itu kebutuhan akan penyataan Allah ini menjadi semakin besar, bukan saja untuk mengerti "Penyataan" Allah dengan benar, tetapi juga untuk terlebih dahulu ditebus (dipulihkan) supaya bisa menerima hal-hal yang rohani.
Dari pengertian di atas, muncul beberapa pertanyaan:
    1. Selain agama Kristen adakah agama-agama lain di dunia yang juga mengaku menerima "Penyataan" dari Yang Ilahi (Allah)?
    2. Apakah agama-agama lain itu menerima "Penyataan" dengan cara yang sama?
    3. Apakah benar bahwa Allah berbicara dan menyatakan diriNya kepada setiap agama dengan isi yang sama?

  1. Penyataan umum dan Penyataan Khusus
Para teolog Kristen biasanya membedakan 2 macam cara Allah menyatakan DiriNya, yaitu dengan cara Umum dan Khusus.
a.    Penyataan Umum
1.    Definisi      :   Penyataan Allah mengenai diriNya sendiri yang
2.     diberikan kepada semua orang melalui alam semesta,
3.     sejarah dan hati nurani manusia.
4.     Sumber        :   Allah
5.     Jangkauan     :   umum, semua orang.
6.     Ref. Mat 5:45, Kis 14:17; Maz 19:2
7.    Sarana        :   menggunakan cara-cara universal, yaitu melalui alam, 
      sejarah dan hati nurani manusia
 Ref. Maz 19:4-7; Rom 2:14-15.
9.    Tujuan        :   untuk menyatakan: kemuliaan Allah, kuasaNya dalam 
      alam semesta, keunggulanNya, keahlianNya, penentuanNya dalam 
      mengendalikan alam semesta; kebaikanNya, kecerdasanNya 
      dan keberadaanNya yang hidup.
11. Maz 19:2; Rom 1:20; Kis 14:17; 17:29; Mat 5:45
12. Keterbatasan  :  
§   membuat manusia menyadari akan keberadaan Allah, tetapi 
   tidak cukup membawa manusia kepada pengenalan
§   yang benar dan penuh tentang Allah.
§   membawa manusia untuk berseru dan memuji Allah,
§   tetapi tidak cukup untuk membawa mereka kepada
§   keselamatan.
§   memberikan pengetahuan tentang sifat-sifat Allah,
§   tetapi tidak memberikan pengetahuan bahwa Kristus
§   adalah satu-satunya jalan keselamatan yang
§   disediakan Allah.
13.  Hasil         :  
§    menyatakan anugerah umum dan mempersiapkan manusia 
    kepada anugerah-anugerah khusus.
§   melawan isme-isme yang menolak keberadaan Allah.
§   membatasi dosa manusia - hukum moral.
§   menghukum secara adil untuk mereka yang berdalih.
 
b.    Pernyataan Khusus
1.    Definisi      :   Penyataan yang diberikan Allah melalui karya penebusan 
      Yesus Kristus, yang juga dituliskan dalam Alkitab.
2.    Sumber        :   Allah.
3.    Jangkauan     :   orang-orang pilihanNya yang percaya.
4.    Sarana        :   melalui Yesus Kristus dan firmanNya yang tertulis dalam 
      Alkitab, yang diberikan melalui saluran-saluran:
§  undi (Ams 16:33; Kis 1:21-26).
§  urim dan Tumim (Kel 28:30; Bil 27:21)
§  mimpi (Kej 20:3, 31:24)
§  penglihatan (Yes 1:1; 6:1; Yeh 1:3)
§  Teofani (penempatan Allah dalam wujud manusia)Kej 16:7-14
§  malaikat (Dan 9:20-21; Luk 2:10-1 l; Wah 1:1)
§  nabi-nabi (2Sa 23:2)
§  peristiwa-peristiwa (Yeh 25:7; Yoh 1:14)
§  mujizat-mujizat (Yes 9:5; Wah 21:5)
5.     Tujuannya     :   Allah menyatakan kehendakNya, dan perjanjian
6.    keselamatanNya dalam Yesus Kristus, dengan demikian mendamaikan 
      kembali hubungan antara manusia dan Allah.
7.    Hasilnya      :   
§  menjadi jalan satu-satunya untuk manusia bisa mengerti tindakan, tujuan 
   dan kehendak Allah dengan benar
§  menjadi jalan satu-satunya untuk manusia bisa menerima kabar 
   keselamatan Yesus Kristus.
§  memungkinkan manusia mendapatkan kesempatan untuk kembali 
   bersekutu dengan Allah selamanya.
 
  1. Pandangan kontemporer tentang "Penyataan"
    1. Pandangan Liberal Kaum Liberal memberikan penekanan yang sangat kuat pada Penyataan Umum, bahkan memberikan pernyataan bahwa hanya dengan Pernyataan Umum saja manusia sudah dapat dituntun kepada keselamatan.
Ciri utama pandangan Liberal adalah subyektivitas manusia, dan akal adalah penentu kebenaran. Sedangkan yang menjadi dasar otoritas adalah hati nurani. Alkitab menurut mereka hanyalah hasil akal manusia yang berisi pemikiran-pemikiran tentang Allah.
    1. Pandangan Neo-Ortodoks Kaum Neo-Orthodoks percaya bahwa Allahlah yang memprakarsai "Penyataan". Namun demikian mereka tidak mempercayai otoritas Alkitab sebagai Firman Allah. Alkitab hanyalah saksi Firman, jadi bisa salah. Alkitab adalah sarana untuk kita bisa bertemu dengan Kristus.
Kebenaran mutlak Alkitab baru akan terjadi pada saat Allah menyatakan Diri melalui FirmanNya secara supranatural. Pengalaman supranaturallah yang menjadi tolok ukur.

Tugas Baca:                                                                     
Bruce Milne, Mengenali Kebenaran - (Hal. 35-54)                            
DR. R. Soedarmo, Ikhtisar Dogmatika - (Hal. 11-42)                         
Charles C. Ryrie, Teologi Dasar (Hal. 83-87)                               
R.C. Sproul, Kebenaran-kebenaran Dasar Iman Kristen - (Hal. 3-19)          
Dieter Becker, D.Th., Pedoman Dogmatika - (Hal. 30-42)                    
Louis Berkhof, A Summary of Christian Doctrine - (Hal. 11-15)             




C.   INSPIRASI (PENGILHAMAN)

  1. Pengertian/Definisi
    1. Arti epistemologi Istilah "inspirasi/ilham" berasal dari bahasa Latin inspirare. Tetapi kata ini sebenarnya tidak memberikan arti yang tepat. Kata Yunaninya, yang dipakai dalam 2Ti 3:16 dan Ayu 32:8, yaitu theopneustos lebih tepat digunakan. theopneustos adalah kata majemuk (pneo + theos) yang berarti "dihembuskan (oleh) Allah." Dalam kata ini jelas terlihat adanya penekanan pada faktor Allah dalam pekerjaan penulisan tsb.
    2. Definisi:  Pekerjaan Allah melalui RohNya yang menggerakkan, menguasai dan memimpin orang-orang yang telah dipilihNya untuk menuliskan perkataan- perkataan yang dikehendakiNya dalam Alkitab (PL dan PB), tanpa salah dalam teks/bahasa aslinya.
    3. Hubungan antara "Penyataan" dan "Inspirasi". Dalam "Penyataan" Allah mengkomunikasikan kebenaran-kebenaranNya kepada manusia yang dipilihNya - (vertikal).
Dalam "Inspirasi" Allah menuntun orang-orang yang dipilihNya itu untuk menuliskan "Penyataan" Allah dalam bahasa yang bisa dimengerti oleh manusia yang lain - (horisontal).

  1. Pentingnya Doktrin Inspirasi Doktrin Inspirasi membicarakan tentang bagaimana "Penyataan" Allah dituliskan menjadi Alkitab. Kegiatan penulisan "Penyataan" Allah ini menjadi sangat penting artinya karena berhubungan langsung dengan masalah keotentikan dan ketidakbersalahan isinya.
Dengan mempercayai bahwa Allah sendirilah yang memilih dan memimpin orang-orang tertentu untuk menuliskan "Penyataan" Allah itu menjadi Alkitab, maka akan terjamin bahwa isinya tidak mungkin salah. Dengan demikian tidak sulit bagi orang Kristen untuk menerima otoritas Alkitab sebagai Kitab yang berperan mutlak memberikan pedoman iman dan kehidupan.
Dengan mempercayai bahwa Allahlah yang menginspirasikan seluruh isi Alkitab maka akan terjamin pula keabsahan dan juga kesatuan kanon Alkitab itu, karena berarti seluruh tulisan itu berasal dari satu sumber, yaitu Allah.
Namun demikian, sejarah gereja membuktikan bahwa ada banyak pendapat yang menolak doktrin Inspirasi. Akibat langsung dari menolak doktrin Inspirasi berarti menolak keabsahan Alkitab sebagai Firman Tuhan dan berarti menolak pula otoritasnya yang mutlak.

  1. Bukti-bukti Inspirasi
    1. Adanya Penyataan-penyataan yang di luar kemampuan berpikir manusia. misalnya tentang dosa, manusia, keselamatan, Allah Tritunggal, dll.
    2. Adanya Penyataan-penyataan yang bersifat nubuatan, dan yang sekarang sebagian sudah terjadi, yang tidak mungkin muncul dari pikiran manusia.
    3. Adanya Penyataan-penyataan yang bersifat sejarah yang jauh di luar pengetahuan manusia, misalnya tentang kejadian penciptaan dll.
    4. Adanya Penyataan-penyataan yang mempunyai kuasa yang mengubahkan hidup manusia, dari jaman ke jaman.
    5. Adanya Penyataan-penyataan yang berisi ajaran moral yang sangat tinggi, yang juga diakui oleh agama-agama yang lain.
    6. Adanya kesatuan tema dan isi dari seluruh Alkitab, meskipun ditulis oleh penulis-penulis yang mempunyai latar belakang berbeda dan hidup pada jaman yang sangat berbeda.
    7. Bukti kelanggengan Alkitab, meskipun sudah dilakukan usaha berkali-kali untuk memusnahkannya.

  1. Bukti dalam Alkitab Doktrin Inspirasi tidak hanya didukung oleh bukti-bukti di luar Alkitab, tetapi juga merupakan pengajaran yang diberikan oleh Alkitab sendiri.
    1. Perjanjian lama
      1. Allah sendiri yang memberi perintah untuk menuliskan. Kel 17:14; 34:27; Bil 33:2; Yes 8:1; 30:8; Yer 25:13; Yeh 24:1 Dan 12:4; Hab 2:2
      2. Para penulis secara sadar memberikan otoritas terhadap tulisannya sebagai Firman Tuhan. "Demikian Firman Tuhan" Yer 36:27, 32; Yeh 26:1-21; 27:1-36; 31:1-18; 32:1-32; 39:1-29
      3. Perjanjian Baru mengakui inspirasi Alkitab Perjanjian Lama - Yesus Kristus: Mat 4:11; Mat 5:17-20; Yoh 10:33-36 - Rasul Paulus: 2Ti 3:14-16 - Rasul Petrus: 2Pe 1:19-21 - Penulis Kitab: Ibr 1:5; 3:7; 4:3; 5:6; 7:21
    2. Perjanjian Baru
      1. Pengakuan dari penulis bahwa mereka menerima Firman dari Tuhan. 1Ko 2:13; 2Ko 13:3; 1Te 2:13
      2. Perjanjian baru mengakui Inspirasi Alkitab Perjanjian Baru - Yesus Mat 10:19-20; Yoh 16:7,13; Kis 4:31

  1. Data Alkitab Penyataan-penyataan Allah yang diinspirasikan kepada penulis-penulis Alkitab itu berasal dari bermacam-macam bahan, antara lain:
    1. Bahan yang langsung dari Allah Mis.: 2 Loh batu (Ula 9:10)
    2. Bahan hasil penyelidikan - berkonsultasi dengan saksi mata - memakai saksi mata - menyelidiki - menyusun dalam buku - dipimpin Roh
    3. Bahan nubuatan Seper-empat isi Alkitab adalah nubuat, dan sebagian sudah digenapkan.
    4. Bahan Sejarah Di catat dengan teliti - pengalaman yang dicatat penulis.
    5. Bahan Lain Teliti, termasuk hal-hal yang tidak benar/kebohongan dan tentang setan.

  1. Teori-teori Penulisan Alkitab Manusia adalah satu-satunya makhluk yang diciptakan oleh Allah dengan pikiran dan rasio. Pada waktu manusia mulai membaca dan mempelajari Alkitab, maka tidak mungkin tidak mereka akan mulai berpikir dan memberikan pertanyaan, bahkan keraguan, tentang dari mana asal Alkitab, bagaimana Alkitab ditulis, dan mengapa mereka harus mempercayainya.
Di bawah ini adalah beberapa teori yang muncul dari pikiran manusia tentang bagaimana kira-kira Alkitab itu ditulis:
    1. Teori Dikte (Inspirasi Mekanis) Ini adalah salah satu teori yang ekstrim, yang mengatakan bahwa para penulis Alkitab itu hanyalah seperti mesin atau alat rekam. Mereka mendengar "Penyataan" dari Allah kemudian langsung menuliskannya kata demi kata persis seperti apa yang Tuhan katakan, sehingga tidak melibatkan sama sekali baik kepribadian maupun pikiran para penulis itu.
    2. Teori Penyesuaian (Inspirasi Dinamis) Allah menyesuaikan diri dengan keterbatasan para penulis. Itu sebabnya ada dijumpai beberapa kekilafan/kesalahan.
    3. Teori Pengawasan (Inspirasi Organis) Allah berdaulat mengawasi dan mengatur latar belakang, warisan keturunan dan keadaan sekitar masing-masing penulisnya. Sehingga pada waktu menulis, mereka sadar menggunakan kata-kata mereka sendiri, dan sekaligus adalah merupakan Firman Allah dan mereka sudah dibina oleh Allah untuk tujuan itu, karena orang tersebut telah diperbaharui Rohnya dan terhisap dalam hubungan dengan Allah. Jadi walaupun para penulis adalah orang berdosa, itu tidak menjadi penghalang karena mereka dipimpin oleh Allah, sehingga terjamin bahwa tulisan-tulisan itu tidak mungkin salah dalam bahasa aslinya. Itu sebabnya masing-masing kitab yang ditulis masing-masing penulis mempunyai gaya bahasa yang berbeda, perbendaharaan kata yang tertentu, penekanan berita yang tertentu, dsb.
Langkah-langkah Roh Kudus menggerakkan penulis untuk menulis Alkitab:
      1. Allah telah memilih dan menyediakan si penulis jauh sebelum Ia menggerakkan si penulis untuk menulis Alkitab.
        • Allah memilih si penulis sebelum ia dilahirkan.
        • Allah menempatkan mereka pada situasi keadaan sesuai dengan kedaulatanNya.
        • Allah kadang memilih orang yang mampunyai pengalaman langsung.
        • Allah menggerakkan penulis juga untuk menyelidiki fakta-fakta terlebih dahulu.
      2. Menunggu Waktu Allah.
        • Allah menggerakkan penulis untuk berkhotbah terlebih dahulu lalu menuliskannya.
        • Roh Kudus dicurahkan kepada penulis untuk menyatakan firmanNya secara langsung untuk ditulis.
        • Roh Kudus dicurahkan kepada penulis untuk menulis hal-hal yang sudah diketahuinya.
        • Roh Kudus menggerakkan penulis untuk menulis apa yang dikehendakiNya.

  1. Pandangan-pandangan Keliru tentang Inspirasi Doktrin Inspirasi adalah salah satu doktrin yang banyak menimbulkan perdebatan karena perbedaan-perbedaan pra-anggapan dan penafsiran. Berikut ini adalah beberapa pandangan-pandangan yang tidak sesuai dengan Alkitab tentang bagian penginspirasian:
    1. Penginspirasian Alamiah Para penulis-penulis Alkitab adalah orang-orang jenius secara alami. Mereka menuliskan tanpa memerlukan campur tangan Allah atau kuasa supranatural.
    2. Penginspirasian Dinamis atau Mistis Para penulis-penulis Alkitab ini dipenuhi dan dipimpin oleh Roh Kudus, sama halnya dengan literatur-literatur Kristen yang lain.
    3. Penginspirasian Bertingkat. Para penulis-penulis Alkitab mendapat inspirasi dari Roh Kudus sehingga menuliskan tulisan-tulisan itu, namun tingkat penginspirasiannya tidak sama derajatnya. Sehingga ada sebagian tulisan yang lebih berbobot daripada yang lain.
    4. Penginspirasian Sebagian, Ada kitab-kitab yang sama sekali tidak memerlukan inspirasi karena berupa dokumen sejarah. Bagian-bagian yang secara khusus diilhami (diinspirasikan) adalah yang mengajarkan tentang keselamatan dan ini tidak mungkin salah, tetapi yang lain bisa saja salah karena tidak diinspirasikan oleh Allah.
    5. Inspirasi Konsep Pandangan ini percaya pada doktrin inspirasi, tetapi bukan inspirasi harafiah kata per kata. Allah hanya menginspirasikan secara konsepnya saja.
    6. Inspirasi Barthian Pusat Penyataan adalah Yesus Kristus, Alkitab hanya merupakan "saksi" dari Penyataan Allah. Sedangkan Alkitab sendiri adalah kata-kata manusia yang bisa keliru tapi apabila ditangkap dengan telinga iman, maka kata-kata itu baru akan menjadi Firman Allah. Jadi Allah bisa berbicara melalui Alkitab, tetapi hanya melalui anugrahlah bagian Alkitab itu dapat menjadi Firman Allah.
Tugas Baca:
1. Daniel Lukas Lukito, Pengantar Teologi Sistematik I (hal. 86-107)
2. Dr. R. Sudarmo, Ikhtisar Dogmatika (hal. 52-72)
3. Bruce Milne, Mengenal Kebenaran (hal. 54-59)
4. Henry Thiessen, Teologi Sistematika (hal. 95-109)
5. harles Ryrie, Teologi Dasar (hal. 88-100) 



D.   KANON ALKITAB

  1. Pengertian/Definisi
    1. Arti etimologis "Kanon" berasal dari kata Yunani kanon, artinya "buluh". Karena pemakaian "buluh" dalam kehidupan sehari-hari jaman itu adalah untuk mengukur, maka kanon juga berarti sebatang tongkat/kayu pengukur atau penggaris. Yeh 40:3; 42:16 tombak pengukur
    2. Arti metafor Seperangkat peraturan/standard norma (kaidah) dalam hal etika, literatur dsb.
    3. Arti teologis Dalam sejarah gereja abad 1 kata "kanon" dipakai untuk menunjuk pada peraturan atau pengakuan iman. Tetapi pada pertengahan abad ke 4 (dimulai oleh Athanasius), kata ini dipakai untuk menunjuk pada Alkitab, dan mempunyai 2 arti, yaitu:
      1. daftar naskah kitab-kitab, yang berjumlah 66 kitab, yang telah memenuhi standard peraturan-peraturan tertentu, yang diterima oleh gereja sebagai kitab-kitab kanonik yang diakui diinspirasikan oleh Allah.
      2. kumpulan kitab-kitab, yang berjumlah 66 kitab, yang diterima sebagai Firman Tuhan yang tertulis, yang berotoritas penuh bagi iman dan kehidupan manusia. 2Ko 10:13-16 - batas Gal 6:16 – patokan

  1. Kapan terjadi Kanon Alkitab Alkitab sendiri menolak dengan tegas pendapat bahwa Alkitab turun/jatuh dari surga (Luk 1:1-4). Lalu bagaimana dan kapan kanon Alkitab itu terjadi? Tidak pernah ada satu peristiwa tertentu yang terjadi yang menandai dimulainya kanon Alkitab. Juga tidak ada sejarah khusus yang menentukan kapan kanon Alkitab itu ditetapkan (disahkan). Tetapi secara iman kita mengakui bahwa Tuhan sendirilah yang menentukan, bukan manusia.
Ini harus menjadi pengakuan penting bagi orang Kristen, bahwa Alkitab, sebagai Firman Allah yang tertulis, akan tetap menjadi Firman Allah sekalipun manusia tidak mengesahkannya, karena pengesahan terhadap Alkitab datang dari Allah dan dari Alkitab itu sendiri. Manusia hanya bisa menerima dan mengakuinya, tetapi tidak menetapkannya.
Peristiwa pengkanonan Alkitab, oleh Konsili di Karthago tahun 397M harus dipahami sebagai penerimaan iman oleh gereja bahwa Alkitab kanonik itu ada dan diterima sebagai standar iman dan kehidupan. Tangan Tuhanlah yang telah memimpin orang orang percaya itu untuk mengumpulkan kitab-kitab kanonik sehingga disusun menjadi Alkitab. Pendapat ini tidak sama dengan pendapat dari gereja Roma Katolik. Menurut mereka penetapan Kanon ditetapkan oleh gereja Roma Katolik.
Peristiwa penerimaan gereja terhadap kanon Alkitab sebenarnya sudah dimulai ketika Jemaat Gereja Pertama (Mula-mula) membaca Kitab-kitab Perjanjian Lama pada kebaktian-kebaktian. Dengan campur tangan Roh Kudus jemaat juga menambahkan kitab-kitab dan surat-surat para Rasul yang diinspirasikan Allah dan karenanya berwibawa. Sampai akhirnya pada tahun 367M, uskup Aleksandria, Athanasius, memberikan daftar kitab-kitab yang merupakan kanon. Daftar kitab-kitab itulah (66 buku) yang sampai sekarang dimasukkan sebagai Alkitab.

  1. Pertimbangan yang dipakai untuk menerima Kanon
    1. Bukti dari Alkitab sendiri Bahwa tulisan dalam kitab-kitab kanon itu diinspirasikan oleh Allah (2Ti 3:16). Dengan demikian jelas kitab-kitab itu tidak hanya ditulis oleh tangan manusia tetapi merupakan campur tangan Allah sepenuhnya (theopeustos). Oleh karena itu seluruh tulisan Alkitab mempunyai otoritas penuh dari Allah.
    2. Ditulis oleh orang-orang yang hidupnya dipimpin oleh Allah, baik para nabi (PL) maupun rasul (PB) atau orang-orang yang di bawah pengawasan mereka.
    3. Ada bukti-bukti dari dalam dan jelas tentang keaslian penulisannya.
    4. Ada pengaruh kuasa Allah dalam tulisan-tulisan itu yang sanggup mengubah hidup manusia.
    5. Secara aklamasi diterima oleh umat Allah secara luas sebagai kitab- kitab yang diinspirasikan oleh Allah. (Gal 6:16, Luk 11:51, Kol 4:16, Wah 22:18)

  1. Beberapa pengertian yang salah tentang penerimaan Kitab kanon Diantara banyak kitab-kitab kuno yang harus dipertimbangkan untuk dimasukkan dalam kanon Alkitab, tidak semuanya diterima sebagai kitab kanon. Pertimbangan-pertimbangan terhadap kitab-kitab itu:
    1. Tidak didasarkan pada tuanya.
    2. Bukan karena ditulis dalam bahasa Ibrani.
    3. Bukan karena setuju dengan Taurat.
    4. Bukan karena mempunyai nilai agama.

  1. Sejarah Kanon PL Kanon PL tidak mengalami banyak kesulitan untuk diterima, karena pada waktu kitab-kitab PL itu ditulis, saat itu juga langsung diterima sebagai kitab-kitab yang diinspirasikan oleh Allah sehingga otoritasnya diakui. Kitab-kitab (yang berupa gulungan-gulungan) disimpan bersama-sama dengan Tabut Perjanjian yaitu di Kemah Tabernakel dan juga kemudian di Bait Allah. Para imam memelihara kitab-kitab itu dan mereka juga yang membuat salinan-salinannya apabila diperlukan. Ula 17:18; 31:9, 24-26 ;1Sa 10:25; 2Ra 22:8; 2Ta 34:14.
Pada waktu bangsa Yahudi dibuang ke tanah Babel, dan Yerusalem dihancurkan pada tahun 587SM, kitab-kitab itupun juga dibawa ke tanah pembuangan (Dan 9:2). Pusat ibadah mereka kini bukan lagi Bait Allah di Yerusalem, tetapi kitab-kitab itu. Setelah pembangunan kembali Bait Allah, kitab- kitab itupun dipelihara dan dipindahkan ke sana. (Ezr 7:6; Neh 8:1; Yer 27:21-22)
Penyusunan seluruh kitab-kitab PL selesai pada tahun 430SM, iman Ezra lah yang memainkan peranan penting dalam proses pengumpulan dan penyusunan kitab-kitab PL ini. Selain kitab-kitab Pentatuk (Kejadian-Ulangan) yang sangat dihargai, kitab-kitab para nabi juga biasa dibaca dalam ibadah Yahudi di rumah-rumah ibadah pada waktu jaman PB (Luk 4:16-19).
Pada tahun 90M para ahli Taurat dan pemimpin bangsa Yahudi melakukan persidangan di Yamnia. Salah satu keputusan yang diambil dalam persidangan itu adalah penerimaan kanon PL, yaitu 39 kitab sebagai kanon Alkitab, seperti yang kita pakai sekarang. Jadi penetapan itu sebenarnya hanya memberikan pengakuan akan kitab-kitab yang memang sudah lama dipakai dalam ibadah orang Yahudi.

  1. Sejarah Kanon Perjanjian Baru Pengkanonan PB mengalami lebih banyak pergumulan daripada PL. Baru pada pertengahan abad 4 Masehi masalah pengkanonan PB dianggap selesai.
    1. Latar belakang Kanon PB diawali dengan keadaan dan kebutuhan yang mendesak yang harus segera ditangani oleh gereja-gereja saat itu, antara lain:
      1. Krisis Otoritas Dibutuhkannya suatu pedoman iman dan kehidupan yang diakui berotoritas, apalagi setelah Tuhan Yesus dan para Rasul sudah tidak ada lagi diantara mereka.
      2. Krisis Pengajaran Adanya pengajaran sesat yang mulai menyusup ke dalam gereja-gereja, sehingga diperlukan adanya satu sumber yang dapat menjadi standard pengajaran yang benar.
      3. Dorongan Misi Penyebaran pengajaran Injil Yesus Kristus semakin berkembang ke daerah-daerah lain, sehingga diperlukan adanya kesepakatan terhadap kitab-kitab standard yang harus diterjemahkan.
      4. Tekanan penganiayaan Semakin kuatnya penganiayaan yang dilancarkan kepada orang-orang Kristen baru mendorong gereja untuk mempertahankan sumber pengajaran demi kemurnian iman dan pengajaran yang sehat.
    2. Sejarah Kanon PB Setelah kenaikan Tuhan Yesus Kristus ke surga, pengajaran Injil diteruskan oleh para Rasul Tuhan dengan penuh otoritas karena merekalah saksi-saksi mata tentang keselamatan yang diajarkan oleh Yesus. Tulisan-tulisan tentang pengajaran iman Kristen oleh para Rasul (antara tahun 50-100M) sangat dibutuhkan mengingat bahwa merekalah para saksi mata yang dapat memberitakan pengajaran Injil Yesus Kristus dengan jelas dan menafsirkannya dengan tepat, sesuai dengan pimpinan Roh Kudus kepada mereka. (Yoh 14:26).
Selama thn. 100-200M, tulisan-tulisan para Rasul itu dipakai dan dikumpulkan oleh sidang-sidang jemaat (Kol 4:15-16).
Pada tahun 200 M sebenarnya kanon utama PB sudah terbentuk, dan disebut sebagai "Kanon Muratori" yang berisi 21 kitab/buku dan kemudian 6 kitab lagi ditambahkan.
Memasuki abad ke 5 barulah dalam pertemuan konsili di Hippo dan Kartago tercapai kesepakatan diantara gereja Barat dan Timur dan menerima 27 kitab sebagai Kanon PB, seperti yang kita pakai sekarang.

  1. Kitab-kitab Apokrifa
    1. Definisi/Pengertian Istilah "apokrifa" berasal dari bahasa Yunani apokrufos, artinya "tersembunyi". Sekarang Apokrifa dimengerti sebagai sejumlah kitab-kitab yang tidak dimasukkan ke dalam kanon Alkitab, tetapi yang disebutkan dalam Alkitab, yang ditulis pada waktu yang bersamaan, atau tidak lama sesudah Alkitab ditulis.
Pendirian orang Kristen terhadap kedudukan kitab-kitab Apokrifa sebagai Kanon memang sedikit terombang-ambing sampai abad ke 16, namun sejak semula sebenarnya mereka sudah menolak menganggap kitab-kitab itu sebagai kanon.

    1. Macam-macam Apokrifa
      1. Apokrifa PL
Kitab-kitab ini ditulis antara tahun 300SM - 100 M. Kebanyakan tidak diketahui penulisnya. Kitab-kitab ini berjumlah 15 buah dan dimasukkan dalam versi Septuaginta abad 4. Apokrifa PL dibagi dalam 5 jenis, yaitu:
        • Pengajaran
        • Roman Religius
        • Sejarah
        • Nubuat
        • Dongeng
      1. Apokrifa PB Tidak ada daftar yang pasti untuk kitab-kitab Apokrifa PB. Kebanyakan kitab-kitab itu berisi fiksi religius, yaitu untuk memenuhi keinginan mereka mengetahui informasi tentang peristiwa- peristiwa dalam kehidupan Tuhan Yesus yang tidak tertulis dalam Injil kanon. Juga cerita-cerita tentang akhir kehidupan para Rasul yang tidak diceritakan dalam kitab kanon PB. Beberapa kitab-kitab Apokrifa PB:
        • Shepherd of Hermas
        • Didache, Teaching of the Twelve
        • Epistle of Pseudo Barnabas (Injil Barnabas)
        • Gospel acconding to the Hebrews (Injil Ibrani)

    1. Alasan menolak kitab-kitab Apokrifa PL
      1. Kitab-kitab itu tidak dimasukkan dalam PL Ibrani
      2. Penulis-penulis PB tidak ada yang mengutipnya, sedangkan kitab-kitab PB lain biasanya dikutip.
      3. Yesus tidak pernah menyebutkan kitab-kitab itu.
      4. Tidak ada bukti bahwa Apokrifa dimasukkan dalam Septuaginta abad 2.
      5. Konsili-konsili gereja tidak pernah mengakuinya dan Bapak-bapak gereja juga menolak.
      6. Tidak ada klaim "inilah Firman Tuhan" dalam Kitab-kitab tsb.
      7. Adanya kesalahan-kesalahan dalam bidang sejarah, kronologi dan peta bumi.
      8. Juga kisah-kisahnya bersifat khayal.
      9. Ajaran moralnya rendah.
Penerimaan Gereja RK: Ada 2 ajaran Gereja katolik yang didukung Apokrypha.
        • mendoakan orang mati (surat Makabe).
        • keselamatan melalui perbuatan (Tobit).

    1. Alasan-alasan menolak Apokrifa PB.
      1. Hanya dikenal secara lokal.
      2. Tidak ada konsili gereja yang mengakui.
      3. Hanya dianggap semi kanon.
Namun demikian, ada nilai manfaat yang diakui:
        • Dokumentasi terpagi.
        • Gambaran gereja secara umum setelah jaman para Rasul.
        • Sebagai jembatan bagi tulisan-tulisan PB dengan tulisan dari Bapak- bapak Gereja abad 3 dan 4.
        • Mempunyai nilai sejarah tentang hal-hal praktis dan siasat gereja mula-mula.
Tugas Baca: 
Bruce Milne, Mengenali Kebenaran - (Hal. 59-62)
DR. R. Soedarmo, Ikhtisar Dogmatika - (Hal. 46-50)
Charles C. Ryrie, Teologi Dasar - (Hal. 137-143)
Henry C. Thiessen, Teologi Sistematika - (Hal. 77-93)
R.C. Sproul, Kebenaran-kebenaran Dasar Iman Kristen - (Hal. 27-30)
V. Scheunemann, M. Th., Dogma Kristen - (Hal. 141-150)
Dieter Becker, D.Th., Pedoman Dogmatika - (Hal. 48-49)  
Louis Berkhof, A Summary of Christian Doctrine    
Wyne Grudem, Systematic Theology - (Hal. 54-69)                       



E.   BAHASA DAN TRANSMISI NASKAH ALKITAB

  1. Bahasa Alkitab Dalam berkomunikasi dan menyampaikan penyataanNya Allah menggunakan bahasa manusia karena Allah ingin dimengerti oleh manusia. Walaupun bahasa manusia itu bersifat terbatas, dan tidak mungkin dapat mengungkapkan segala sesuatu tentang Allah, tetapi Allah rela membatasi DiriNya sendiri untuk kepentingan manusia.
    1. Bahasa Tulisan Dan dalam menyampaikan penyataanNya itu Alah memilih menggunakan bahasa tulisan, karena:
      1. Untuk tujuan efisiensi Tidak perlu Allah mengungkapkan penyataanNya berkali-kali, di setiap jaman. Dengan bahasa tulisan, maka manusia dari sepanjang sejarah dapat membacanya terus menerus.
      2. Untuk tujuan ketepatan dan kejelasan. Bahasa tulisan memberikan ketepatan dan sekaligus kejelasan dalam mengekspresikan pemikiran ataupun perasaan.
      3. Untuk tujuan kelanggengan Allah memberikan penyataanNya bukan hanya kepada sekelompok orang, tetapi semua orang. Dengan menuliskan apa yang Allah nyatakan kepada manusia menolong kita untuk memberitakan penyataan yang sama yang tidak akan berubah kepada semua orang.
      4. Untuk tujuan kemudahan Dengan ditulis akan memudahkan manusia mengingat dan meresapinya.
    2. Bahasa Ibrani dan bahasa Yunani
      1. Allah memilih menggunakan bahasa Ibrani untuk PL. Allah berdaulat memilih bahasa tulis apa saja yang Ia kehendaki, tetapi bukan merupakan kebetulan kalau Allah memilih bahasa Ibrani karena keistimewaan yang dimilikinya yaitu:
        • Bahasa Ibrani adalah bahasa ilustrasi/grafik/gambar yang kaya dengan kiasan, mudah mendramatisir. Oleh karena itu sangat cocok karena PL banyak berisi hikayat yang menceritakan tentang perbuatan-perbuatan Allah yang besar.
        • Bahasa Ibrani adalah bahasa "personal" (pribadi), lebih ditujukan kepada hati/emosi manusia daripada pikiran (rasio manusia). Tidak bagus untuk menggambarkan hal-hal abstrak, tapi cocok untuk menceritakan fakta pengalaman. Dalam PL Allah ingin dikenal secara pribadi oleh umat pilihanNya.
Catt: Bahasa Ibrani disebut juga dengan Bahasa Yehuda, Bahasa Yahudi, Bahasa Kanaan. Yes 36:11; Neh 13:24; Yes 19:18; Wah 9:11; 16:16
      1. Allah menggunakan bahasa Yunani untuk menyampaikan PB
        • Bahasa Yunani adalah bahasa intelektual, pendidikan dan budaya, dan jelas sekali sebagai bahasa pikiran.
        • Bahasa Yunani memiliki keistimewaan dalam menyampaikan ketetapan teknis.
        • Bahasa Yunani adalah bahasa universal, bahasa internasional yang dipakai saat itu. Dalam PL Allah ingin dikenal oleh bangsa pilihanNya, tetapi dalam PB Allah ingin dikenal oleh seluruh umat manusia.
        • Dengan demikian Bahasa Yunani juga sangat cocok untuk tujuan misi dan penginjilan karena sifat universalnya.

  1. Transmisi Naskah Alkitab Yang dimaksud dengan Transmisi Naskah Alkitab adalah hubungan antara Penyataan yang diinspirasikan Allah, dalam naskah aslinya, dengan naskah Alkitab modern sekarang (yang sudah diterjemahkan kedalam banyak bahasa).
Diagram:
Naskah Asli >>>>> Naskah salinan yang terkuno yang ada >>>>> Naskah salinan kuno yang lain  >>>> Versi kuno >>>>> Versi Modern (Inggris) >>>> Bhs Indonesia
Persoalan yang sering timbul dengan transmisi adalah, bagaimana kita bisa mengakui bahwa Alkitab kita yang sekarang, setelah melalui banyak penyalinan, tetap dapat dipercaya keaslian isinya. PL tidak sulit untuk diakui keabsahannya, karena penulis-penulis PB memberikan pengakuan. Tetapi PB tidak ada kesaksian langsung. Gereja sebagai saksi. Kalau meragukan/menyangkali PL, sekaligus menyangkali PB.

Tugas Baca:
Bruce Milne, Mengenali Kebenaran - (Hal. 59-62)
Charles C. Ryrie, Teologi Dasar - (Hal. 137-143)
Henry C. Thiessen, Teologi Sistematika - (Hal. 77-93)
DR. R. Soedarmo, Ikhtisar Dogmatika - (Hal. 46-50)

F.    SIFAT-SIFAT ALKITAB

  1. Kewibawaan (Authority)
    1. Pengertian/Definisi Seluruh Alkitab adalah Firman Allah; tidak mempercayai. atau mentaati Alkitab berarti tidak percaya atau tidak taat kepada Allah. Dengan kata lain, Alkitab memegang otoritas tertinggi dan terakhir untuk iman dan kehidupan orang percaya, karena Alkitab adalah Firman yang datang dari Allah sendiri.
    2. Bukti-bukti Kewibawaan dari dalam Alkitab Dalam banyak tempat di Alkitab dikatakan "Demikianlah Firman Tuhan...." Bentuk kalimat ini dalam dunia PL identik dengan bentuk kalimat "Demikian kata Raja...." yang berarti suatu titah yang datang dari yang memiliki kekuasaan/otoritas tertinggi (raja) dan tidak dapat diganggu gugat, harus dilakukan dan dilaksanakan. Ms.: Bil 22:38; Ula 18:18-20; Yer 1:9. Dalam PB, ada beberapa ayat yang jelas sekali menunjukkan bahwa tulisan dalam PL adalah Firman Allah, mis.: 1Ti 3:16; 2Pe 1:21. Dalam PB juga terdapat ayat-ayat yang menunjukkan bahwa tulisan dalam PB adalah Firman Allah. Mis.: 2Pe 3:16; 1Ti 5:18; 1Ko 14:37; Yoh 14:26; 16:13
    3. Penerimaan akan kewibawaan (otoritas) Alkitab Penerimaan orang percaya bahwa Alkitab adalah Firman Allah adalah dari keyakinan yang diberikan oleh Roh Kudus dalam hati manusia yang sudah diperbaharui. Dengan demikian penerimaan akan kewibawaan (otoritas) Alkitab dalam kehidupan orang percaya adalah karena iman, bukan datang dari manusia sendiri. Ref. 1Ko 2:13-14; Yoh 10:27

  1. Inerensi (Inerrancy)
    1. Pengertian/Definisi Secara umum, inerensi diartikan bahwa Alkitab (PL dan PB) adalah seluruhnya Firman Allah yang ditulis tanpa salah pada naskah aslinya. Istilah "inerrancy" sering kali dibingungkan dengan istilah "infallabili." "Infallability" artinya Alkitab tidak mungkin menyesatkan karena semua ajarannya adalah kebenaran (tidak melawan ajaran moral). Sedangkan penekanan ineransi adalah kesalahan tulisan dan data yang ada di dalam Alkitab.
    2. Pentingnya Inerensi Sangat penting bagi orang Kristen memegang kepercayaan bahwa Alkitab seluruhnya adalah tidak keliru karena Alkitab adalah Firman yang datang dari Allah sendiri, yang adalah sempurna dan tidak berdusta. Kalau tidak mempercayai ketidakkeliruan Alkitab maka kewibawaan Alkitab pun sulit dipertahankan, karena berarti kita tidak dapat mempercayai Allah sepenuhnya.
    3. Dasar penerimaan ineransi Penerimaan inerensi bukan berdasarkan akan kemampuan manusia dalam menilai Alkitab, namun berdasarkan keyakinan bahwa:
      1. Allah adalah kebenaran. Oleh karena itu segala sesuatu yang difirmankan Allah adalah benar.
      2. Allah tidak pernah berdusta, jadi apa yang dikatakanNya pasti benar. Ibr 6:18; 2Ti 2:13
      3. Alkitab sendiri menyebut diriNya sempurna (Maz 19:8) murni (Maz 19:9): tepat (Maz 19:9); benar (Maz 119:43), kekal (Maz 119:89; Mat 24:34).
      4. Percaya bahwa Roh Kudus memberikan pengawasan penuh kepada penulis penulisnya, sehingga penulis-penulis menuliskannya dengan benar, tanpa salah.
      5. Ukuran kebenaran Alkitab adalah "a-rasional", akal manusia bukanlah standard ukuran yang dipakai.
    4. Bagaimana kalau tidak ada naskah aslinya? Memang diakui bahwa kita tidak lagi memiliki naskah aslinya yang ada hanyalah salinan aslinya. Ada 3 macam/kategori dalam hal penyataan tertulis yang asli:
      1. Penyataan asli (bukan salinan) yang telah selesai ditulis seluruhnya.
      2. Penyataan salinan yang ditulis kembali sesuai dengan aslinya (disebut salinan asli).
      3. Alkitab, secara kanon, merupakan kesatuan organisasi yang tidak dapat diambil dari konteks keseluruhan isi buku.
    5. Teori Inerensi Ada beberapa macam teori inerensi yang diajukan:
      1. Full Inerancy (Ineransi penuh) Alkitab bukanlah kitab ilmiah ataupun sejarah, oleh karena itu tidak dituntut ketepatan yang empiris. Dengan mengerti konteks dan latar belakang budaya kemungkinan besar ketidak tepatan belum tentu suatu kesalahan.
      2. Absulute Inerancy (Ineransi mutlak) Semua data dalam Alkitab adalah benar, termasuk hal-hal yang menyangkut kebenaran ilmiah dan sejarah. Kebenaran Alkitab juga seharusnya dapat dibuktikan dari semua sudut termasuk ilmiah dan sejarah.
      3. Limited Inerancy (Ineransi terbatas) Kebenaran Alkitab dapat dibuktikan hanya dari segi ajaran doktrinnya yang berhubungan dengan keselamatan. Kalau ada kesalahan data yang lain, tidak apa-apa karena itu tidak menjadi kepentingan Alkitab.
      4. Pandangan Reformator Pandangan inerensi Alkitab tidak dapat dipisahkan dengan inspirasi. Kalau Firman Allah diberikan oleh Allah maka tidak mungkin tunduk pada kekeliruan manusia. Memang diakui ada masalah-masalah dalam Alkitab yang sampai sekarang belum dapat dipecahkan, tapi hal itu belum cukup membuktikan bahwa Alkitab bersalah. Kebenaran ini mencakup ajaran (doktrin), pola hidup (etika), ataupun peristiwa- peristiwa yang terjadi (sejarah).
    6. Bagaimana dengan bagian-bagian Alkitab yang dimasalahkan? Dalam hal Alkitab yang ineransi, kaum Injili berpegang pada suatu "komitmen teologia", yaitu kepercayaan akan keyakinan iman yang dipegang sebagai ketaatannya kepada pribadi dan ajaran Alkitab. Kepercayaan yang tidak dibangun sebagai hasil secara empiris (karena melihat), juga bukan sebagai hasil penelitian dari naskah asli. Oleh karena itu setiap kesulitan yang ditemui harus diteliti dan dipelajari dengan tunduk pada otoritas Allah. Jawaban atas bagian-bagian dalam Alkitab yang masih sering dipermasalahkan.
      1. Satu peristiwa, tidak harus selalu diceritakan dengan sebutan/ istilah/cerita yang sama oleh 2 penulis yang berbeda. Contoh: Luk 6:17 dan Mat 5:1
      2. Kutipan kata tidak harus tepat sama, yang penting kebenarannya. Contoh: Hal tentang kesaksian Paulus dari Kis 9:7 dan Kis 22:9
      3. Istilah teknis ilmiah tidak dikenal pada jaman/budaya/waktu itu. Contoh: Mat 5:1 vs Luk 6:17 Mar 10:45 vs Luk 18:35
      4. Tidak setiap perbedaan berarti kesalahan. Masalah yang belum terjawab tidak harus diartikan kesalahan. Contoh:
        • pembulatan perhitungan hari, jam dll.
        • Kisah kematian Yudas dari Mat 27:5 dan Kis 1:18
      5. Periode penyataan tidak semuanya sama, tergantung konteksnya.???
      6. Hal berikut ini juga perlu diingat:
        • Kebiasaan/budaya Timur (Yahudi dan Palestina) tidak sama dengan budaya sekarang.
        • Tidak menentang maka tidak berarti salah.

  1. Kejelasan (Clarity)
    1. Pengertian/Definisi Kejelasan Alkitab diartikan bahwa Alkitab ditulis sedemikian rupa sehingga jelas maksud pemberitaan dan pengajaranNya, sehingga dapat dimengerti oleh setiap orang yang sungguh-sungguh membaca dan mencari pertolongan Tuhan serta bersedia melakukan Firman Tuhan itu. Namun demikian tidak berarti bahwa semua bagian Alkitab akan dapat dimengerti dengan mudah. Tidak juga berarti bahwa setiap orang akan mengertinya dengan benar. Tapi memang betul bahwa untuk mengerti isi Alkitab dengan benar seseorang harus memiliki persyaratan moral dan rohani tertentu (1Ko 2:14). Juga dapat terjadi seseorang mengerti lebih jelas dari yang lain (2Pe 3:16).
Kesulitan manusia untuk mengerti/menafsir isi Alkitab sering kali dikarenakan pikiran manusia yang dibutakan oleh dosa, bukan karena kemampuan intelektual. (1Ko 1:18-3:4; Ibr 5:14; 2Pe 3:5).
    1. Bagaimana kita bisa mengerti atau menafsirkan isi Alkitab secara jelas, benar dan tepat?
      1. Hanya dengan penerangan Roh Kuduslah manusia dapat mengerti Firman Tuhan dengan benar dan tepat Efe 3:4, 5; 1Ko 2:12, 13; Yoh 14:26; 16:13-15; 2Pe 1:21.
      2. Mempunyai motivasi yang benar, tidak untuk kesombongan, keserakahan, kepentingan diri sendiri dan tidak karena kurang iman (tidak percaya). Luk 24:25; 2Ko 4:3-4.
      3. Mempunyai pengetahuan dan ketrampilan yang cukup untuk menafsir. Dengan menerapkan prinsip-prinsip menafsir yang sehat dan mengembangkannya sebagai ketrampilan maka kita akan dapat menafsir dengan baik. Alat-alat menafsir juga sangat mempengaruhi dalam mendapatkan data yang lengkap.

  1. Keperluan mutlak (Necessity)
    1. Pengertian/Definisi Keperluan mutlak Alkitab artinya Alkitab diperlukan secara mutlak untuk mengenal Kristus, agar kita bisa diselamatkan. Karena hanya Alkitablah yang memberitakan kebenaran "kabar baik" tentang Kristus (Rom 1:16). Penekanan di sini bukanlah keperluan untuk mengenal Allah dalam arti keberadaan dan sifat-sifat umum Allah, dan hal-hal tentang moralitas (karena itu sudah diberikan Allah dalam Penyataan Umum), tetapi secara khusus keperluan untuk keselamatan, untuk memelihara kehidupan rohani dan untuk mengetahui kehendak Allah.
    2. Bukti-bukti keperluan mutlak Alkitab Roma 10:13-17: Untuk manusia bisa diselamatkan, maka ia harus mendengar Firman Injil Yesus Kristus. Kis 4:12: Tidak ada keselamatan di luar Kristus. 1Ti 2:5-6: Tidak ada Pengantara yang lain selain Yesus Kristus, untuk menjadi Pendamai antara manusia dengan Allah.
Kesimpulan: karena Alkitab adalah satu-satunya sumber untuk mengenal Kristus; Injil yang mempunyai kuasa yang menyelamatkan, maka manusia harus membaca Alkitab atau mendengar dari orang lain Firman dalam Alkitab.

  1. Kecukupan (Sufficiency)
    1. Pengertian/Definisi Kecukupan Alkitab diartikan bahwa Alkitab berisi semua Firman Allah yang dibutuhkan oleh orang percaya untuk keselamatannya dan untuk hidup di dalam keselamatannya, sehingga tidak diperlukan lagi tambahan "penyataan" lain di luar Alkitab.
Dengan demikian kita percaya bahwa Alkitab adalah cukup sebagai satu- satunya sumber Firman Allah yang diperlukan oleh manusia untuk selamat dan hidup dalam keselamatannya.
    1. Bukti-bukti kecukupan Alkitab dalam Alkitab 2Ti 3:15-17 Yak 1:18 1Pe 1:23 Wah 22:18,19

  1. Tidak pernah gagal dalam maksudnya (Efficacy)
    1. Pengertian/Definisi Maksud dan tujuan Alkitab adalah memberikan berita tentang Allah dan rencana keselamatanNya kepada manusia. Dalam menyampaikan beritanya ini Alkitab tidak pernah gagal mencapai maksudnya, baik untuk orang yang menerima keselamatan atau pun untuk mereka yang menolak. Untuk orang yang diselamatkan Firman Allah memberikan damai sejahtera dan hidup yang kekal, untuk orang yang menolak FirmanNya, Allah menyatakan keadilanNya dengan menghukum mereka ke dalam nyala api selama-lamanya.
    2. Bukti-bukti dalam Alkitab Yes 55:11 Firman Allah tidak pernah kembali dengan sia-sia.

  1. Kesatuan (Unity)
    1. Pengertian/Definisi Alkitab mempunyai satu kesatuan isi dan berita, yaitu Allah yang menyatakan diri kepada manusia umat pilihanNya dalam diri Tuhan Yesus Kristus.
    2. Alkitab adalah "unik" Kesatuan Alkitab itu menunjukkan bahwa Alkitab adalah lain dari pada kitab-kitab yang lain; sangat unik. Mengapa? Berikut ini adalah daftar yang membuktikan bahwa Alkitab adalah sangat unik.
      1. Satu-satunya kitab yang ditulis dalam jangka waktu 1600 tahun dan melibatkan kisah dari 60 generasi.
      2. Ditulis oleh kurang lebih 40 penulis dari berbagai kalangan (raja, nabi, nelayan, penulis puisi, orang kaya, petani, ahli filsafat, negarawan, ahli politik, gembala, militer, dokter etc.).
      3. Ditulis di tempat-tempat yang berbeda (dipenjara, dipandang belantara, dibukit, diistana, dipulau terpencil etc.).
      4. Ditulis dalam jaman dan waktu, tempat (3 benua) dan keadaan yang berbeda-beda.
      5. Ditulis dalam 3 macam bahasa (Ibrani, Aramaic, Yunani).
      6. Buku yang paling jujur menceritakan semua kebaikan dan kejelekan sifat manusia.
      7. Buku yang berisi nubuatan dan yang kebenaran nubuatannya sudah terbukti.
      8. Alkitab juga adalah buku yang dapat bertahan melalui waktu, penganiayaan, kritikan, pengerusakan dll.
      9. Alkitab adalah buku pertama yang diterjemahkan berulang-ulang, dalam jumlah bahasa yang terbanyak, dan sudah disebarkan ke seluruh penjuru dunia.
      10. Mempunyai pengaruh luar biasa, karena orang berdosa besarpun dapat diubahkan menjadi orang yang baik dan berbudi.

Tugas Baca:
1.    Dr. R. Soedarmo, Ikhtisar Dogmatika - (Hal. 72-90)
2.    Charles C. Ryrie, Teologi Dasar - (Hal. 101-136)
3.    V. Scheunemann, M. Th., Dogma Kristen - (Hal. 111-112)




G.   ILUMINASI

  1. Pengertian/Definisi
    1. Arti etimologis Kata "iluminasi" berasal dari bahasa Yunani photizo, artinya "menerangi, memberi penerangan batin" Yoh 1:9; Luk 11:36; 1Ko 4:5; Efe 1:18
    2. Definisi Pekerjaan Roh Kudus yang membantu membukakan pikiran orang percaya supaya mereka dapat mengerti dan mengaplikasikan Firman Allah itu (Alkitab) dalam kehidupan mereka. 1Ko 2:14

  1. Pentingnya Iluminasi
    1. Karena pikiran dan hati manusia masih ada dalam kegelapan. 1Ko 2:14; Efe 4:17, 18
    2. Sifat hati manusia yang bebal Yes 6:9-10; Kis 28:26
    3. Melawan pekerjaan Setan 2Ko 4:3-4
    4. Pengaruh kuasa kedagingan 1Ko 3:1-2; Ibr 5:12-14

  1. Hubungan Inspirasi dan Iluminasi
Dalam Inspirasi, Roh Kudus memberikan inspirasi kepada penulis-penulis Alkitab, sehingga mereka menuliskan Penyataan Tuhan dengan benar dan tepat sesuai dengan yang Allah kehendaki.
Dalam Iluminasi Roh Kudus memberikan iluminasi kepada para pembaca Alkitab agar mereka dapat mengerti dan menerima apa yang dimaksudkan oleh Penyataan Tuhan yang tertulis itu dengan benar dan tepat. Namun demikian, kita harus ingat bahwa pekerjaan Roh Kudus dalam penginspirasian Alkitab sudah selesai. Tidak akan ada lagi inspirasi baru di luar Alkitab, karena Alkitab sudah sempurna.
Tetapi pekerjaan Roh Kudus dalam memberikan iluminasi-iluminasi baru kepada orang-orang percaya masih berlaku hingga kini. Roh Kudus memberikan iluminasi tetapi tidak untuk menambah dari apa yang sudah ada dalam Alkitab. Dan Roh Kudus bekerja dengan Firman dan melalui Firman, tetapi tidak melawan Firman. Itu sebabnya, Alkitab harus menjadi tolok ukur untuk kita mengkonfirmasikan segala sesuatu yang kita percaya dan yang kita lakukan (Maz 119:105)

  1. Peranan Roh Kudus dalam Iluminasi Roh Kudus mempunyai peran selain sebagai Pengarang juga sebagai Penafsir, sekaligus Pengajar Firman Allah (Alkitab). Efe 3:4, 5 1Ko 2:12, 13 Yoh 14:26 Yoh 16:13-15 2Pe 1:21
Tujuan iluminasi adalah supaya manusia mengenal Allah dengan benar melalui PenyataanNya, sehingga manusia mengerti akan kehendak Tuhan bagi manusia dan melakukan apa yang berkenan bagi Allah supaya hanya Allah saja yang ditinggikan dan dimuliakan.

Tugas Baca:
1.    Charles C. Ryrie, Teologi Dasar - (Hal. 152-153)
2.    Wayne Grudem, Systematic Theology - (Hal. 644-645, 1041-1042)


=======================================================================

=======================================================================





SOAL UJIAN TENGAH SEMESTER

Matakuliah                : Pengangtar Teologi Sistematika
Dosen                                    : Yoel Benyamin, M.Th.
Nama Mahasiswa    : __________________________


1.    Arti etimologis (asal kata) Istilah "Teologia" berasal dari 2 kata Yunani, yaitu: ......... artinya "Allah"; dan ........ artinya "perkataan, uraian, pikiran, ilmu". Sedangkan "Sistematika" berasal dari kata ........., artinya .......... / ........... secara tepat.
2.    Definisi Istilah "Teologia" dapat dimengerti dalam arti ......... atau arti ........ Arti luas: mencakup seluruh pokok studi (disiplin ilmu) dalam ............. Arti sempit: usaha meneliti iman Kristen dari aspek .......... saja yang sering disebut sebagai ...............
3.    Definisi umum: Teologia ialah ..................... tentang Allah dan hubungannya dengan karya/ciptaan-Nya seperti yang dipaparkan oleh ............. Definisi khusus: Teologia Sistematika ialah bagian dari .............. yang mengatur secara terperinci dan berurutan tema-tema dari .................. dalam Alkitab.
4.    Pengertian ................... sebagai Ilmu Teologia meskipun tidak memiliki fakta-fakta yang dapat diukur secara .......... (seperti ilmu-ilmu modern sekarang ini) tetap dapat disebut sebagai ....... karena, sesuai dengan salah satu definisi "ilmu", teologia adalah suatu usaha untuk memberikan penjelasan tentang Allah, yang diperoleh dari .......... (sebagai penyataan Allah yang tidak berubah), dengan cara yang ..........
5.    Dengan demikian Teologia Kristen memenuhi unsur-unsur ilmu: Dapat dimengerti oleh pikiran manusia dengan cara ....... dan .........; Menuntut adanya penjelasan secara ...........; Menyajikan ............; Mempunyai nilai yang ...........; Memiliki ........ yang diteliti
6.    Alkitab Sebagai sumber yang .......... yang menjadi ............ dan mutlak bagi iman dan .......... .
7.    Tradisi gereja Khususnya dari ........... Gereja, dan perkembangan pengajaran di gereja dari ............., yaitu tentang apa yang ............/ditolak oleh gereja sepanjang .........
8.    Sumber-sumber lain berasal dari buku-buku yang sudah "jadi" yang dihasilkan oleh teologia .........  ,  ........... atau .......... untuk dipergunakan sebagai sarana membantu menyelidiki Alkitab dengan lebih sehat.
9.    Keterbatasan teologia: Keterbatasan ............ untuk memikirkan pikiran Allah yang tidak terbatas; Kekurangan ilmu .......... pembantu; Keterbatasan ....... manusia; Kekurangan ketrampilan untuk menguasai dan mengartikan secara tepat Alkitab secara ...... dan ........... (hermeneutik); Bungkamnya penyataan lanjutan; Pengaruh ...... dan kehendak ....... .
10. Metode Charles Hodge Memakai metode ........ , yaitu dengan mengumpulkan fakta-fakta, kemudian ditarik ....... . Alkitab adalah gudang fakta (yang tidak dapat dicerna disingkirkan, karena, tidak diterima oleh rasio). Dasar teori a priori (sebelum pengalaman) diterima dan a posteriori (sesudah pengalaman) ........ .
11. Metode Karl Barth Teori Barth mengatakan: bahwa manusia tidak mungkin .......... (karena di luar jangkauan ........ manusia). Oleh karena itu Allah yang mencari manusia. ......... yang membantu manusia untuk bisa bertemu Allah (yang mencari mereka). Karena Allah ada di luar jangkauan manusia maka Allah menjadi "...............". Satu-satunya cara manusia untuk menerima kebenaran adalah melalui cara ......... dan Allah harus menemui manusia langsung sehingga manusia mempunyai ............... tentang Dia. Maka pernyataan teologis harus didasarkan pada pengalaman supranatural itu.
12. Teologia Biblika (Eksegetis); Teologia yang berurusan dengan ........ isi naskah Alkitab dan alat- alat ........., untuk tujuan ........ , ....... dan mengartikan apa yang ditulis dalam Alkitab.
13. Teologia Historika (Sejarah); Teologia yang berurusan dengan ....... umat Allah, ........ dan ....... , untuk tujuan mengikuti dan menyelidiki ......... iman/teologia dan sejarahnya dari jaman ke jaman.
14. Teologia Sistematika (Doktrin Iman Kristen); Teologia yang berurusan dengan penataan ............ dalam Alkitab menurut suatu ....... , untuk tujuan menemukan, merumuskan, memegang dan mempertahankan ........... iman Kristen dan tindakan yang sesuai dengan Alkitab.
15. Teologia Praktika (Pelayanan); Teologia yang berurusan dengan ........ teologi dalam ......... , untuk tujuan pembangunan, pengudusan, pembinaan pendidikan dan pelayanan jemaat dan ........... pada umumnya.
16. Arti etimologis (asal kata) Istilah "Bibliologi" berasal dari 2 kata Yunani, yaitu: ......... atau ......... (jamak) artinya "buku-(buku)"; dan logos artinya ".................." "Buku-(buku)" (atau "tulisan-tulisan") yang dimaksud adalah Alkitab (Firman Allah). Definisi Bibliologi adalah ...... yang mempelajari tentang seluk beluk sekitar ......... (Buku) Alkitab, dan peran Alkitab dalam iman kepercayaan Kristen.
17. Alkitab sendiri didefinisikan sebagai kumpulan ........ yang diakui sebagai ".........", dan diterima ......... sebagai Firman Allah oleh gereja Kristen
18. Dalam bahasa Yunani "Penyataan" adalah ........... (dari apokalypto) yang artinya "sesuatu yang ......... (dibukakan) dari apa yang dahulu samar-samar/tertutup/tidak terlihat jelas" (Luk 10:21; Efe 3:5).
19. Istilah "Penyataan" sering diartikan sama dengan kata "........" Kedua kata ini sebenarnya mempunyai konotasi yang ......... Dalam agama-agama lain kata "Wahyu" diartikan sebagai ......... yang di dapat seseorang pada dirinya sendiri dengan keyakinan penuh bahwa pengetahuan itu datang dari ......., baik dengan perantaraan atau tidak.
20. Melalui "Penyataan" Allah menunjukkan ........ untuk berkomunikasi dengan ciptaanNya, dalam hal ini manusia adalah satu-satunya ciptaan yang diberikan kemampuan untuk ...... dan mengembalikan respons terhadap tindakan Allah (........) itu.
21. Pengetahuan yang datang dari diri manusia sendiri tentang Allah hanyalah merupakan ......... dan ....... pikiran manusia saja. Oleh karena itu "Penyataan" Allah ini menjadi ................ untuk manusia mengetahui tentang Allah dengan benar.
22. Para teolog Kristen biasanya membedakan 2 ....... cara Allah menyatakan DiriNya, yaitu dengan cara ...... dan ...... .
23. Keterbatasan penyataan umum adalah:  membuat manusia ...... akan keberadaan Allah, tetapi tidak cukup ..... manusia kepada pengenalan yang ...... dan ....... tentang Allah; membawa manusia untuk ...... dan memuji Allah, tetapi tidak cukup untuk membawa mereka kepada ...........; memberikan pengetahuan tentang ......... Allah, tetapi tidak memberikan pengetahuan bahwa Kristus adalah satu-satunya ........... yang disediakan Allah.
24. Hasil dari penyataan khusus adalah:  menjadi jalan ........ petunjuk untuk manusia bisa mengerti ....... , ........ dan ...... Allah dengan benar; menjadi jalan ....... untuk manusia bisa menerima kabar ........ dalam Yesus Kristus; memungkinkan manusia mendapatkan ....... untuk kembali ........ dengan Allah selamanya.
25. Pandangan Liberal Kaum Liberal memberikan penekanan yang sangat kuat pada ......... , bahkan memberikan pernyataan bahwa hanya dengan Pernyataan Umum saja ....... sudah dapat ....... kepada keselamatan.
26. Ciri utama pandangan Liberal adalah ........ manusia, dan ..... adalah penentu kebenaran. Sedangkan yang menjadi dasar otoritas adalah ....... . Alkitab menurut mereka hanyalah ...... manusia yang berisi ............ tentang Allah.
27. Pandangan Neo-Ortodoks Kaum Neo-Orthodoks percaya bahwa Allahlah yang ......... "Penyataan". Namun demikian mereka tidak mempercayai ......... sebagai Firman Allah. Alkitab hanyalah ..........., jadi ...... . Alkitab adalah ........ untuk kita bisa bertemu dengan Kristus. Kebenaran mutlak Alkitab baru akan terjadi pada saat Allah ............. melalui FirmanNya secara .......... . Pengalaman supranaturallah yang menjadi tolok ukur.
=======================================================================


 
1.    A. Theos
B. Logos
C. Sustematikos
D. Penempatan
E. Penyusunan

2.    A. Luas
B. Sempit
C. Pendidikan Teologi
D. Doktrinnya
E. Teologi Sistematika

3. A. Pengetahuan Yang rasional
B. Alkitab
C. Divisi Teologia
D. Ajaran Doktrin

4.    A. Teologia
B. Empiris
C. Ilmu
D. Alkitab
E. Sistematis.

5.    A. Teratur
B. Rasional
C. Metodologis
D. Kebenaran
E. Universal
F. Objek

6.    A. Paling Utama
B. Otoritas Tertinggi
C. Kehidupan Kristen

7.    A. Bapak-Bapak
B. Jaman Ke Jaman
C. Diterima
D. Sejarah

8.    A. Biblika
B. Historika
C. Filosofika
D. Menyelidiki Alkitab

9.    A. Pemikiran Manusia
B. Pengetahuan
C. Bahasa
D. Utuh
E. Menyeluruh
F. Dosa
G. Daging

10.  A. Induktif
B. Kesimpulan
C. Ditolak

11.  A. Mengenal Allah
B. Rasio
C. Imanlah
D. Tersembunyi
E. Supranatural
F. Bukti Pengalaman

12.  A. Penelahaan
B. Bantunya
C. Menggali
D. Mengerti

13.  A. Sejarah
B. Alkitab
C. Gereja
D. Perkembangan

14.  A. Doktrin-Doktrin
B. Tatanan Logis
C. Dasar Pengajaran

15.  A. Penerapan
B. Kehidupan Praktis
C. Umat Manusia

16.  A. Biblion
B. Biblia
C. Perkataan, Uraian, Pikiran, Ilmu
D. Ilmu
E. Penulisan

17.  A. Kitab-Kitab
B. Kanonik
C. Seluruhnya

18.  A. Apokalupsis
B. Disingkapkan

19.  A. Wahyu
B. Berbeda
C. Pengetahuan
D. Allah

20.  A. Inisiatifnya
B. Menerima
C. Penyataan
21.  A. Spekulasi
B. Rekayasa
C. Satu-Satunya Sumber

22.  A. Macam
B. Umum
C. Khusus

23.  A. Menyadari
B. Membawa
C. Benar
D. Penuh
E. Berseru
F. Keselamatan
G. Sifat-Sifat
H. Jalan Keselamatan

24.  A. Satu-Satunya
B. Tindakan
C. Tujuan
D. Kehendak
E. Satu-Satunya
F. Keselamatan
G. Kesempatan
H. Bersekutu

25.  A. Penyataan Umum
B. Manusia
C. Dituntun

26.  A. Subyektivitas
B. Akal
C. Hati Nurani
D. Hasil Akal
E. Pemikiran-Pemikiran

27.   A. Memprakarsai
B. Otoritas Alkitab
C. Saksi Firman
D. Bisa Salah
E. Sarana
F. Menyatakan Diri
G. Supranatural
 
======================================================================





SOAL UJIAN AKHIR SEMESTER

Matakuliah                : Pengangtar Teologi Sistematika
Dosen                                    : Yoel Benyamin, M.Th.
Nama Mahasiswa    : __________________________



1.       Arti etimologis "Kanon" berasal dari kata Yunani ........, artinya "........". Karena pemakaian "buluh" dalam kehidupan sehari-hari jaman itu adalah untuk mengukur, maka kanon juga berarti sebatang .............. pengukur atau penggaris.  Arti teologis Dalam sejarah gereja abad 1 kata "kanon" dipakai untuk menunjuk pada peraturan atau ........... Tetapi pada pertengahan abad ke 4 (dimulai oleh Athanasius), kata ini dipakai untuk menunjuk pada .........
2.       Tidak pernah ada satu ........ tertentu yang terjadi yang menandai dimulainya kanon Alkitab. Juga tidak ada sejarah ......... yang menentukan kapan kanon Alkitab itu ...... (disahkan). Tetapi secara iman kita ........ bahwa Tuhan sendirilah yang menentukan, bukan manusia. Ini harus menjadi ....... penting bagi orang Kristen, bahwa Alkitab, sebagai .......... yang tertulis
3.       Peristiwa pengkanonan Alkitab, oleh Konsili di ......... tahun 397M harus dipahami sebagai ................. oleh gereja bahwa Alkitab kanonik itu ada dan diterima sebagai ........... iman dan kehidupan. Tangan Tuhanlah yang telah ......... orang orang percaya itu untuk mengumpulkan kitab-kitab kanonik sehingga disusun menjadi Alkitab.
4.       Diantara banyak ........... kuno yang harus dipertimbangkan untuk dimasukkan dalam ..........., tidak semuanya diterima sebagai kitab kanon. Pertimbangan-pertimbangan terhadap kitab-kitab itu: Tidak didasarkan pada ........; Bukan karena ditulis dalam bahasa .......; Bukan karena ........ dengan Taurat; Bukan karena mempunyai ....... agama.
5.       Pada waktu bangsa Yahudi dibuang ke tanah Babel, dan Yerusalem dihancurkan pada tahun ........, kitab-kitab itupun juga dibawa ke tanah .......... (Dan 9:2). Pusat ibadah mereka kini bukan lagi Bait Allah di Yerusalem, tetapi ........... itu. Setelah pembangunan kembali Bait Allah, kitab- kitab itupun .......... dan ............ ke sana. (Ezr 7:6; Neh 8:1; Yer 27:21-22). Penyusunan seluruh kitab-kitab PL selesai pada tahun ........., iman Ezra lah yang memainkan ............... dalam proses pengumpulan dan penyusunan kitab-kitab PL ini.  Pada tahun .......... para ahli Taurat dan pemimpin bangsa Yahudi melakukan persidangan di ............, keputusan yang diambil dalam persidangan itu adalah .......... kanon PL, yaitu 39 kitab sebagai kanon Alkitab, seperti yang kita pakai sekarang. Jadi penetapan itu sebenarnya hanya memberikan .......... akan kitab-kitab yang memang sudah lama ...........dalam ibadah orang Yahudi.
6.       Latar belakang Kanon PB diawali dengan ........ dan ............ yang mendesak yang harus segera ditangani oleh gereja-gereja saat itu, antara lain: Krisis Otoritas Dibutuhkannya suatu ............... dan kehidupan yang diakui ..........., apalagi setelah Tuhan Yesus dan para Rasul sudah tidak ada lagi diantara mereka; Adanya pengajaran sesat yang mulai menyusup ke dalam ............., sehingga diperlukan adanya satu sumber yang dapat menjadi ......... pengajaran yang benar. Dorongan Misi ............... pengajaran Injil Yesus Kristus semakin berkembang ke daerah-daerah lain, sehingga diperlukan adanya kesepakatan terhadap kitab-kitab standard yang harus ................ Semakin kuatnya penganiayaan yang dilancarkan kepada orang-orang Kristen baru ............. gereja untuk mempertahankan sumber pengajaran demi ........... iman dan ............ yang sehat.
7.       Definisi/Pengertian Istilah "apokrifa" berasal dari bahasa Yunani .............., artinya "..............". Orang Kristen sudah .......... menganggap kitab-kitab itu sebagai kanon.
8.       Kebanyakan kitab-kitab Apokrifa PB berisi .........., yaitu untuk memenuhi keinginan mereka mengetahui ............. tentang peristiwa- peristiwa dalam ........... Tuhan Yesus yang tidak tertulis dalam Injil kanon. Juga cerita-cerita tentang akhir kehidupan para Rasul yang tidak diceritakan dalam kitab kanon PB.
9.       Alah memilih menggunakan bahasa tulisan, karena: (1) Untuk tujuan ....... Tidak perlu Allah mengungkapkan ............ berkali-kali, di setiap jaman. Dengan bahasa .........., maka manusia dari sepanjang sejarah dapat membacanya terus menerus. (2) Untuk tujuan ketepatan dan ............ Bahasa tulisan memberikan ketepatan dan sekaligus kejelasan dalam mengekspresikan .......... ataupun perasaan. (3) Untuk tujuan ............. ,  Allah memberikan penyataanNya bukan hanya kepada sekelompok orang, tetapi .......... orang. (4) Dengan ditulis akan memudahkan manusia ............ dan meresapinya.
10.    Bukti-bukti ............... dari dalam Alkitab Dalam banyak tempat di Alkitab dikatakan "............... Firman Tuhan" Bentuk kalimat ini dalam dunia PL identik dengan bentuk kalimat "Demikian kata Raja" yang berarti suatu ....... yang datang dari yang memiliki kekuasaan/.............. tertinggi (raja) dan tidak dapat diganggu gugat, harus dilakukan dan dilaksanakan.
11.    Inerensi diartikan bahwa ......... adalah seluruhnya Firman Allah yang ditulis ........... pada naskah ............ Istilah "inerrancy" sering kali dibingungkan dengan istilah "infallabili." "Infallability" artinya .......... tidak mungkin menyesatkan karena semua ajarannya adalah ............ (tidak melawan ajaran moral). Sedangkan penekanan ineransi adalah ................ tulisan dan data yang ada di dalam Alkitab.
12.    Penerimaan inerensi bukan berdasarkan akan kemampuan manusia dalam .......... Alkitab, namun berdasarkan .......... bahwa: (1) Allah adalah ............ Oleh karena itu segala sesuatu yang difirmankan Allah adalah ............  (2) Allah tidak pernah berdusta, jadi apa yang dikatakanNya .......... (3) Alkitab sendiri menyebut diriNya ....... (Maz 19:8) murni (Maz 19:9): tepat (Maz 19:9); benar (Maz 119:43), kekal (Maz 119:89; Mat 24:34). (4) Percaya bahwa Roh Kudus memberikan ................ penuh kepada penulis penulisnya, sehingga penulis-penulis menuliskannya dengan benar, ........... (5) Ukuran ............ Alkitab adalah "a-rasional", akal manusia ..................... ukuran yang dipakai.
13.    Alkitab diperlukan secara mutlak untuk mengenal .........., agar kita bisa diselamatkan. Karena hanya Alkitablah yang memberitakan kebenaran ".............." tentang Kristus (Rom 1:16). Karena Alkitab adalah satu-satunya sumber untuk mengenal Kristus; Injil yang mempunyai ........ yang menyelamatkan, maka manusia harus ......... Alkitab atau mendengar dari orang lain Firman dalam Alkitab. Dengan demikian kita percaya bahwa Alkitab adalah .......... sebagai satu- satunya sumber Firman Allah yang diperlukan oleh manusia untuk selamat dan ........ dalam keselamatannya.
14.    Dalam menyampaikan beritanya ini Alkitab tidak pernah gagal .......... maksudnya, baik untuk orang yang ........... keselamatan atau pun untuk mereka yang ......... Untuk orang yang diselamatkan Firman Allah memberikan ................... dan hidup yang kekal, untuk orang yang menolak FirmanNya, Allah menyatakan keadilanNya dengan menghukum mereka ke dalam nyala api selama-lamanya.
15.    Kesatuan Alkitab ............... bahwa Alkitab adalah lain dari pada kitab-kitab yang lain; sangat unik. Mengapa? Berikut ini adalah daftar yang membuktikan bahwa Alkitab adalah sangat unik. (1) Satu-satunya kitab yang ditulis dalam jangka waktu ....... tahun dan melibatkan kisah dari ..... generasi. (2) Ditulis oleh kurang lebih ....... penulis dari berbagai ............. . (3) Ditulis di ................. yang berbeda (dipenjara, dipandang belantara, dibukit, diistana, dipulau terpencil etc.).
16.    Kata "iluminasi" berasal dari bahasa Yunani .............., artinya "menerangi, memberi ................ batin" Yoh 1:9; Luk 11:36; 1Ko 4:5; Efe 1:18, yakni pekerjaan Roh Kudus yang membantu membukakan .......... orang percaya supaya mereka dapat mengerti dan ................. Firman Allah itu (Alkitab) dalam kehidupan mereka. Dalam Inspirasi, Roh Kudus memberikan ............ kepada penulis-penulis Alkitab, sehingga mereka menuliskan ........ Tuhan dengan benar dan tepat sesuai dengan yang Allah kehendaki.
17.    Roh Kudus memberikan iluminasi tetapi tidak untuk ............. dari apa yang sudah ada dalam Alkitab. Dan Roh Kudus .............dengan Firman dan melalui Firman, tetapi tidak melawan Firman. Itu sebabnya, Alkitab harus menjadi ................. untuk kita mengkon-firmasikan segala sesuatu yang kita percaya dan yang kita lakukan (Maz 119:105).
18.    Roh Kudus mempunyai peran selain sebagai ............ juga sebagai .............., sekaligus .......... Firman Allah (Alkitab). Efe 3:4, 5 1Ko 2:12, 13 Yoh 14:26; Yoh 16:13-15; 2Pet.1:21. Tujuan iluminasi adalah supaya manusia .............Allah dengan benar melalui PenyataanNya, sehingga manusia .................. akan kehendak Tuhan bagi manusia dan melakukan apa yang .............. bagi Allah supaya hanya Allah saja yang ................ dan ....................


KUNCI JAWABAN UJIAN AKHIR SEMESTER


 
KUNCI JAWABAN SOAL UJIAN AKHIR SEMESTER
1.       A. Kanon
B. Buluh
C. Tongkat/Kayu
D. Pengakuan Iman
E. Alkitab

2.       A. Peristiwa
B. Khusus
C. Ditetapkan
D. Mengakui
E. Pengakuan
F. Firman Allah

3.       A. Karthago
B. Penerimaan Iman
C. Standar
D. Memimpin

4.       A. Kitab-Kitab
B. Kanon Alkitab
C. Tuanya
D. Ibrani
E. Setuju
F. Nilai

5.       A. 587sm
B. Pembuangan
C. Kitab-Kitab
D. Dipelihara
E. Dipindahkan
F. 430sm
G. Peranan Penting
H. 90m
I. Yamnia
J. Penerimaan
K. Pengakuan
L. Dipakai

6.       A. Keadaan
B. Kebutuhan
C. Pedoman Iman
D. Berotoritas
E. Gereja-Gereja
F. Standard
G. Penyebaran
H. Diterjemahkan
I. Mendorong
J. Kemurnian
K. Pengajaran

7.       A. Apokrufos
B. Tersembunyi
C. Menolak

8.       A. Fiksi Religius
B. Informasi
C. Kehidupan

9.       A. Efisiensi
B. Penyataannya
C. Tulisan
D. Kejelasan
E. Pemikiran
F. Kelanggengan
G. Semua
H. Mengingat

10.   A. Kewibawaan
B. Demikianlah
C. Titah
D. Otoritas

11.   A. Alkitab
B. Tanpa Salah
C. Aslinya
D. Alkitab
E. Kebenaran
F. Ketidaksalahan

12.   A. Menilai
B. Keyakinan
C. Kebenaran
D. Benar
E. Pasti Benar
F. Sempurna
G. Pengawasan
H. Tanpa Salah
I. Kebenaran
J. Bukanlah Standard

13.   A. Kristus
B. Kabar Baik
C. Kuasa
D. Membaca
E. Cukup
F. Hidup

14.   A. Mencapai
B. Menerima
C. Menolak
D. Damai Sejahtera

15.   A. Menunjukkan
B. 1600
C. 60
D. 40
E. Kalangan
F. Tempat-Tempat

16.   A. Photizo
B. Penerangan
C. Pikiran
D. Mengaplikasikan
E. Inspirasi
F. Penyataan

17.   A. Menambah
B. Bekerja
C. Tolok Ukur

18.   A. Pengarang
B. Penafsir
C. Pengajar
D. Mengenal
E. Mengerti
F. Berkenan
G. Ditinggikan
H. Dimuliakan

Tidak ada komentar: